Gubernur Lampung Targetkan Hilirisasi Komoditas untuk Pacu Ekonomi 8 Persen

Sep 18, 2026 - 12:00
Updated: 2 hours ago
0 1
Gubernur Lampung Targetkan Hilirisasi Komoditas untuk Pacu Ekonomi 8 Persen

Teraslampung.com, Bandarlampung — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong percepatan hilirisasi komoditas unggulan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah hingga 8 persen. Saat ini, menurut dia, baru sekitar 30 persen komoditas Lampung yang diolah lebih lanjut sebelum dipasarkan.

Mirzani menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pembukaan Lampung Begawi x Siger Fest 2026 yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Lampung di Lampung City Mall, Jumat, 18 September 2026. Ia mengatakan kolaborasi pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha diperlukan untuk memperluas investasi serta mengembangkan inovasi industri berbasis potensi daerah.

“Ide Siger Fest ini bagaimana mempertemukan ide, inovasi, investasi, dan kolaborasi. Ini sangat penting sekali bagi kami. Kami sadar kita punya target bagaimana kita harus tumbuh 8 persen ke depan untuk mencapai Indonesia Emas 2045,” kata Mirzani.

Menurut Mirzani, Lampung memiliki posisi strategis dalam rantai pasok pangan nasional. Produksi padi daerah ini mencapai sekitar 3,5 juta ton, dengan sebagian hasilnya didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan pangan provinsi lain. Lampung juga memasok sekitar 70 persen tapioka nasional, menjadi salah satu eksportir utama kopi Indonesia, serta memiliki produksi jagung, lada, dan gula yang signifikan.

Namun, besarnya produksi komoditas belum sepenuhnya menjamin peningkatan kesejahteraan petani. Mirzani menilai ketergantungan pada penjualan bahan mentah membuat pendapatan masyarakat rentan terhadap fluktuasi harga pasar.

Ia mengatakan kenaikan harga sejumlah komoditas turut mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung. Setelah selama bertahun-tahun tumbuh di bawah rata-rata nasional, Lampung disebutnya mencatat pertumbuhan tertinggi kedua di Sumatera pada 2026, setelah Kepulauan Riau.

“Selama 15 tahun, Provinsi Lampung ini pertumbuhan ekonominya selalu di bawah rata-rata nasional. 2026 kemarin kita nomor dua tertinggi se-Sumatera, jadi setelah Kepri, Lampung, karena harga komoditas,” ujarnya.

Meski demikian, Mirzani mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa terus bergantung pada kenaikan harga komoditas dan kebijakan tata niaga. Pemerintah daerah perlu membangun industri pengolahan agar nilai ekonomi hasil pertanian dapat dinikmati lebih banyak oleh masyarakat Lampung.

“Hari ini kami tumbuh karena didukung oleh kebijakannya Presiden, dipaksa naik harganya. Tapi ke depan untuk mencapai 8 persen tidak bisa hanya dengan regulasi. Harus ada kolaborasi, harus ada kreativitas, harus ada inovasi, dan tentunya yang paling penting sesuai dengan RPJMN kita harus melakukan hilirisasi. Kami melihat baru 30 persen komoditas kami yang dihilirisasi di Lampung,” kata Mirzani.

Pemerintah Provinsi Lampung menyiapkan dua pendekatan hilirisasi. Pada skala perdesaan, pengembangan diarahkan pada industri pakan ternak serta penanganan pascapanen kopi dan kakao. Adapun hilirisasi lanjutan akan didorong melalui pengembangan industri manufaktur di kawasan industri.

Strategi tersebut diharapkan memperluas kesempatan usaha di daerah sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap penjualan komoditas mentah. Pengolahan di dekat sentra produksi juga berpotensi memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan nilai jual hasil pertanian.

Mirzani turut menyoroti peningkatan penggunaan teknologi pertanian di Lampung. Ia menyebut belanja alat dan mesin pertanian meningkat hampir 200 persen, sedangkan jumlah armada truk logistik naik sekitar 50 persen. Peningkatan tersebut dinilai mencerminkan perkembangan aktivitas ekonomi dan kebutuhan distribusi komoditas.

Selain pertanian dan industri pengolahan, pemerintah daerah melihat peluang pertumbuhan dari sektor energi terbarukan dan pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan domestik ke Lampung disebut meningkat dari 17 juta pada 2024 menjadi 27 juta pada 2025, atau sekitar 60 persen.

Dari sisi demografi, sekitar 71 persen penduduk Lampung berada dalam kelompok usia produktif. Mirzani menilai kondisi tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat tenaga kerja industri dan mengembangkan usaha baru, selama didukung peningkatan keterampilan serta penciptaan lapangan kerja.

Ia juga meminta Bank Indonesia dan kalangan perbankan membantu mengatasi hambatan investasi, terutama yang berkaitan dengan perizinan. Menurut dia, penyederhanaan prosedur diperlukan agar investasi dapat masuk dan kegiatan industri berkembang lebih cepat.

“Saya yakin salah satu fondasi kemajuan Indonesia itu syaratnya cuma satu, ketika daerah-daerahnya menjadi kuat. Fondasi utama pertumbuhan ekonomi ke depan ketika pertumbuhan di daerah itu akan kuat. Ketika Lampung tumbuh, Lampung maju, ekonomi masyarakat makmur, cita-cita presiden kita akan tercapai, Indonesia akan jauh lebih makmur ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A. M. Djiwandono menyebut ekonomi Lampung tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026. Angka tersebut menempatkan Lampung sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Sumatera.

Thomas mengatakan pertumbuhan itu ditopang sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian. Namun, ia mengingatkan bahwa capaian pertumbuhan perlu diikuti peningkatan nilai tambah agar manfaatnya menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Tantangannya bukan hanya bagaimana ekonomi tumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut menghasilkan nilai tambah yang semakin luas bagi masyarakat. Karena itu, seperti Pak Gub sampaikan, hilirisasi dan investasi menjadi luar biasa pentingnya,” kata Thomas.

Menurut Thomas, penguatan hilirisasi dan investasi menjadi bagian penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Lampung. Pengembangan industri berbasis komoditas lokal diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja, meningkatkan daya saing produk, dan memperbesar kontribusi sektor pengolahan terhadap perekonomian daerah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User