Budayawan Iwan Nurdaya-Djafar: 36 Tahun Perlawanan Rakyat Lampung Gagal Ditaklukkan Belanda
Teraslampung.com, Bandarlampung -- Markas Besar Angkatan Darat (Mabes AD) menggelar refleksi sejarah mendalam mengenai perjuangan kemerdekaan di Lampung. Dalam acara Family Gathering yang berlangsung Sabtu malam (4/7/2026) di Pantai Pasir Putih, sejarawan Iwan Nurdaya-Djafar mengungkap fakta bahwa rakyat Lampung telah melakukan perlawanan bersenjata selama 36 tahun efektif dan berhasil menggagalkan delapan ekspedisi militer Belanda antara tahun 1805 hingga 1856.
Acara yang dihadiri sekitar 500 peserta, terdiri dari 146 personel Mabes AD beserta keluarga ini, bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai ketahanan bangsa dan integritas melalui pembelajaran sejarah. Iwan Nurdaya-Djafar, yang juga merupakan Sekretaris Akademi Lampung, menyampaikan paparan bertajuk "Sejarah Perjuangan di Lampung" yang menyoroti dua fase kritis: Perang Lampung era kolonial dan Perang Kemerdekaan melawan Agresi Militer Belanda.
Gagalnya Delapan Ekspedisi Militer
Dalam paparannya, Iwan menjelaskan bahwa Perang Lampung (1805–1856) dipimpin oleh tiga generasi Keratuan Darah Putih: Raden Intan I, Raden Imba II, dan Raden Intan II. Puncak perlawanan terjadi pada 13 Desember 1825 di Negara Ratu, ketika pasukan rakyat berhasil menewaskan Gezaghebber Lelievre, pejabat tinggi Belanda. Kemenangan ini mematahkan mitos invincibilitas tentara Belanda di mata pribumi.
"Belanda meluncurkan delapan ekspedisi militer besar, namun gagal mematahkan semangat rakyat Lampung. Raden Intan II bahkan menolak bujukan damai dan memilih perang gerilya dari Benteng Ketimbang sebelum akhirnya gugur akibat pengkhianatan internal pada 1856," ujar Iwan.
Iwan juga menekankan pelajaran penting dari sejarah tersebut, yaitu bahaya disintegrasi. Ia mencatat adanya kolaborator lokal seperti Haji Ismail dan Raden Ngerapat yang membantu Belanda menekan pemberontakan.
"Pengkhianatan dari dalam sering kali lebih mematikan daripada kekuatan musuh dari luar. Ini menjadi peringatan keras bagi kita semua untuk menjaga persatuan," tegasnya.
Tragedi Kemelak dan Strategi Bumi Hangus
Memasuki era Revolusi Kemerdekaan (1947–1949), Lampung kembali menjadi medan pertempuran sengit. Iwan menyoroti Tragedi Kemelak pada Agustus 1947, di mana ratusan laskar golok dan Hizbullah pimpinan KH Ahmad Hanafiah (Pahlawan Nasional 2023) gugur menghadapi panser Belanda. Peristiwa ini menjadi bukti keteguhan hati rakyat Lampung dalam mempertahankan kedaulatan RI.
Pada Agresi Militer II, Sub Teritorial Lampung menerapkan strategi bumi hangus sesuai Perintah Siasat Nomor 1 Jenderal Sudirman. Saat Belanda mendarat di Panjang dan Telukbetung pada 1 Januari 1949, fasilitas vital dibakar oleh TNI dan laskar Harimau Kumbang sebelum pasukan mundur ke pedalaman untuk melakukan perang gerilya. Tokoh-tokoh gerilya seperti Sersan Laba Gole dan Ibrahim Lolok tercatat berhasil meneror pasukan Belanda dengan taktik serangan mendadak.
Legitimasi Proklamasi 1945
Menutup paparannya, Iwan meluruskan pemahaman sejarah mengenai status kemerdekaan Indonesia. Ia menegaskan bahwa meskipun Belanda menyerahkan kedaulatan pada 27 Desember 1949, pengakuan historis bahwa Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945 baru diberikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 2005 melalui pernyataan Menteri Luar Negeri Bernard Bot. Hal ini memperkuat legitimasi hukum bahwa Proklamasi 1945 adalah satu-satunya dasar kemerdekaan Republik Indonesia.
Acara diakhiri dengan penyerahan plakat penghargaan dari Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Darat kepada Iwan Nurdaya-Djafar sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi beliau dalam melestarikan sejarah perjuangan bangsa. Kutipan puisi Chairil Anwar, "Kenang, kenanglah kami... Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian," menjadi penegas bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan amanah untuk dijaga oleh generasi penerus, khususnya prajurit TNI.
Christian Saputro
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0






Comments (0)