Abdul Hakim: DAS di Metro Potensial Jadi Objek Wisata
Ir.Abdul Hakim (berkaca mata) bersama rombongan Basarnas dan SDA Lampung menyusuri DAS Bunit yang membelah Kota Metro. METRO, Teraslampung.com – Daerah Aliran Sungai (DAS) Bunut yang mengalir membelah pusat Kota Metro sampai ke P...
| Ir.Abdul Hakim (berkaca mata) bersama rombongan Basarnas dan SDA Lampung menyusuri DAS Bunit yang membelah Kota Metro. |
METRO, Teraslampung.com – Daerah Aliran Sungai (DAS) Bunut yang mengalir membelah pusat Kota Metro sampai ke Pekalongan, Lampung Timur berpotensi menjadi objek wisata air. Sejauh ini, 12 kilometer aliran Sungai Bunut memang baru difungsikan sebagai sarana pengairan sawah ladang. Hal itu diungkapkan anggota Komisi 5 DPR RI K.H. Abdul Hakim, usai menyusuri Sungai Bunut bersama dengan Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Balai Sumber Daya Air (SDA) Lampung, Jumat (10/4).
“Tadi kami sudah lihat. Kawasan ini sebenarnya indah sekali. Jika dikelola dengan baik, wilayah sepanjang bantaran Bunut dapat ditingkatkan statusnya sebagai kawasan wisata yang dapat menambah sumber perekonomian warga dan juga menjadi tambahan pendapatan asli Kota Metro,” ungkap Sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) yang digadang-gadang menjadi bakal calon Walikota Metro ini, Sabtu (11/4).
Hakim bersama Tim Basarnasas dan Balai SDA Lampung menyusuri Sungai Bunut dengan tiga perahu karet (boat).
Aliran Bunut yang memiliki debit air hampir 6.000 meter kubik per detik ini hanya salah satu sungai – terintegrasi dengan saluran irigasi – yang membelah Kota Metro. Hampir setiap ruas jalan, baik itu jalan protokol maupun kecamatan di Kota Metro dilalui sungai.
Abdul Hakim menilai Pemerintah Kota Metro di bawah Walikota Lukman Hakim sudah cukup baik melakukan upaya peningkatan kebersihan khususnya di sepanjang aliran Bunut. Namun, kata Hakim, dari pantauan sehari-hari bantaran Bunut di Jalan Veteran Hadimulyo Barat dan Jalan Doktor Sutomo dekat SMPN 5 Metro Selatan masih kerap dijumpai pembuangan sampah liar, meski di lokasi tersebut Dinas Tata Kota telah memasang papan peringatan dan larangan untuk tidak membuang sampah.
“Saya kira kesadaran warga juga sangat terkait dengan kebutuhan mereka terhadap bantaran tersebut. Jika ditingkatkan statusnya sebagai tempat wisata, tentu warga sendiri yang juga akan makin merasakan kerugian jika wilayah ini dipenuhi sampah,” tambah Hakim. Penambahan armada pengangkut sampah dan petugas kebersihan serta kampanye kebersihan yang terus menerus dapat menjadi solusi pengelolaan sampah di sepanjang bantaran sungai.
Sebagian warga Metro sendiri tampak berkerumun saat aktivitas susur sungai tersebut dilakukan. Siti (32 tahun), warga bantaran Bunut, mengaku sangat setuju dan mendukung jika memang kawasan itu benar-benar ingin dijadikan objek wisata.
“Saya sangat setuju jika sungai ini dijadikan tempat wisata. Bisa nambah-nambah penghasilan keluarga,” ujarnya.





