Pemprov Lampung Perkuat Mitigasi Kebakaran dan Konflik Gajah di Way Kambas

Aug 31, 2026 - 12:00
Updated: 57 minutes ago
0 2
Pemprov Lampung Perkuat Mitigasi Kebakaran dan Konflik Gajah di Way Kambas

Teraslampung.com, Way Kambas — Pemerintah Provinsi Lampung bersama TNI dan Polri memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta konflik antara gajah dan manusia di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Meski titik api dilaporkan telah padam, pengawasan di kawasan konservasi itu masih dilakukan untuk mencegah kebakaran berulang.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengatakan laporan terakhir menunjukkan tidak ada lagi titik api di kawasan TNWK yang memiliki luas sekitar 120 ribu hektare. Hal itu ia sampaikan saat meninjau kawasan tersebut bersama jajaran TNI, Polri, dan pemerintah daerah pada Senin, 31 Agustus 2026.

“Dalam laporan tadi sudah tidak ada lagi titik-titik kebakaran, tidak ada lagi titik-titik api yang terjadi di 120.000 hektare wilayah TNWK,” kata Mirzani.

Dalam peninjauan itu, Mirzani didampingi Pangdam XXI/Radin Inten Mayor Jenderal Kristomei Sianturi, Kepala Biro Operasi Polda Lampung Komisaris Besar Fadly Munzir Ismail, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, dan Kepala Balai TNWK MHD. Zaidi.

Mirzani mengatakan personel pemadam kebakaran dan kepolisian masih disiagakan untuk memantau kondisi kawasan serta merespons potensi kebakaran baru. Pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan curah hujan dan menjaga kelembapan lahan.

“Teman-teman dari pemadam, teman-teman dari kepolisian masih standby di sini, di sekitar TNWK. Ada yang melakukan sosialisasi, ada yang menjaga monitoring dan lain-lain,” ujarnya.

Selain memeriksa kondisi kawasan, Mirzani bersama rombongan menyusuri TNWK menggunakan kendaraan jip untuk melihat keadaan satwa, terutama gajah Sumatera, yang dikhawatirkan terdampak kebakaran.

Ia mengatakan gajah-gajah yang ditemuinya berada dalam kondisi baik. Sejumlah gajah, termasuk anak gajah, terlihat makan dan bermain.

“Alhamdulillah kita melihat gajah-gajah kita sehat walafiat, makan, main. Anak-anak gajah yang kecil juga masih sangat-sangat semangat,” kata Mirzani.

Namun, pemadaman kebakaran bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi pengelola TNWK. Pemerintah juga berupaya mencegah gajah keluar dari habitatnya dan memasuki permukiman warga, yang berpotensi memicu konflik antara manusia dan satwa.

Pangdam XXI/Radin Inten Kristomei Sianturi mengatakan pembangunan sejumlah fasilitas mitigasi dilakukan bersama Kementerian Kehutanan dan Komite Satgas Mitigasi. Fasilitas itu meliputi pagar besi, high beam, serta struktur penghalang lain untuk membatasi pergerakan gajah menuju kawasan permukiman.

Menurut Kristomei, pembangunan fasilitas tersebut telah mencapai sekitar 65 persen dan ditargetkan rampung pada Oktober 2026.

Selain membangun penghalang fisik, upaya mitigasi dilakukan melalui budidaya serai dan lebah di sekitar kawasan. Kedua komoditas itu dipilih karena dinilai dapat membantu mengurangi ketertarikan gajah untuk mendekati wilayah tertentu, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Jadi kita juga membangun budidaya-budidaya seperti serai, kemudian budidaya lebah yang memang serai dan lebah ini tidak disukai oleh gajah sehingga ikut mencegah bagaimana supaya gajah itu tidak keluar,” ujar Kristomei.

Pemerintah juga merencanakan pembelajaran ke Thailand untuk meningkatkan kapasitas petugas dalam perawatan dan pengelolaan gajah. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan satwa di kawasan konservasi.

Dari sisi pengamanan, Polda Lampung bersama TNI dan Polres Lampung Timur masih menyiagakan sekitar satu peleton personel. Mereka membantu pemantauan kebakaran sekaligus memberikan sosialisasi kepada warga agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api.

Petugas juga memanfaatkan teknologi, termasuk pesawat nirawak atau drone, untuk mendeteksi titik panas yang mungkin masih tersisa di dalam material terbakar. Jika ditemukan titik api baru, pemadaman dapat didukung dengan penyiraman dari udara atau water bombing serta operasi modifikasi cuaca.

Mirzani mengatakan sistem pemantauan dan respons cepat juga diterapkan di wilayah Lampung lainnya. Titik api yang terdeteksi akan segera ditindaklanjuti agar kebakaran tidak meluas.

“Ketika ada titik api yang baru, ada titik merah yang baru, itu langsung dipadamkan oleh operasi water bombing. Seluruh Lampung,” katanya.

Pemerintah Provinsi Lampung mengimbau masyarakat tidak membakar lahan, melakukan perburuan liar, maupun menebang pohon secara ilegal. Pemerintah berharap penguatan pengawasan dan mitigasi dapat menjaga kelestarian TNWK sekaligus mengurangi risiko bagi warga yang tinggal di sekitar habitat gajah.

Upaya tersebut juga diarahkan untuk mempertahankan fungsi TNWK sebagai kawasan konservasi dan habitat gajah Sumatera, serta mengembangkan potensi wisata alam yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User