Kisah yang Mengingatkan

Dahta Gautama Entah, apakah ini keajaiban atau evolusi hidup. Dulu waktu masih lajang, bahkan dari kanak, seingat saya, dan teman juga bilang, bahwa saya jarang bicara, cendrung pemalu, suka gugup dan tertutup. Saya menjadi tahu secara detail, tent...

Kisah yang Mengingatkan

Dahta Gautama

Entah, apakah ini keajaiban atau evolusi hidup. Dulu waktu masih lajang, bahkan dari kanak, seingat saya, dan teman juga bilang, bahwa saya jarang bicara, cendrung pemalu, suka gugup dan tertutup.
Saya menjadi tahu secara detail, tentang diri sendiri, ketika hadir pada acara reuni SMP pada tahun 2009 lalu. Jadi uraian ini, bukan mutlak membicarakan diri sendiri, dari pendapat diri sendiri. Semacam testemoni, begitu kira-kira.

Tapi semoga ini, bisa menjadi sebagai pemacu atau pembanding, dalam kita menjalani hidup di muka bumi ini.

Januari 1999, saya kena Depresi Neorosis, gangguan pada mental. Dokter dalam diagnosisnya menulis, Neorosis semacam gangguan pada fungsi otak yang ber-apiliasi terhadap kondisi fisik secara menyeluruh, seperti, kena serangan sakit kepala akut, seluruh tubuh nyeri, pandangan gelap dan kabur, mual, ketegangan otot, keringat dingin, denyut nadi yang cepat, mual dan seperti akan menemui ajal.

Gejala pada psikis, cemas berlebihan, sulit tidur, gelisah, takut mati dan takut gila. Jika saya masih bertahan, karena saya bertekat untuk tidak mau mati dan meninggalkan perempuan yang baru saya nikahi, beberapa minggu setelah saya kena Neorosis. Padahal beberapa pengidap Neorosis menemui ajal dengan bunuh diri, atau kehabisan tenaga karena badan menjadi kurus, sebab tak ada keinginan untuk mengunyah makanan apa pun.

Saya bertahan dengan campur tangan Tuhan, yang diberikan kepada istri saya, berupa kekuatan batin dan fisik dalam merawat saya. Berupa kesabaran yang paripurna. Selama satu tahun, saya menjadi manusia kamar. Melakukan semua aktivitas di dalam kamar minim cahaya. Sebab saat itu, saya takut pada cahaya.

Tahun 2000 pertengahan, saya bangkit. Ketika naskah puisi yang saya tulis di muat di Koran Tempo. Ya, saya berada di dalam kamar, selain dengar radio, juga nulis puisi menggunakan mesin tik. Istri saya, yang mengirimnya melalui kantor pos, ke sejumlah surat kabar.

Demikianlah, pasti ini lebay, tapi saya benar-benar bangkit dan berubah. Saya ingin melakukan banyak hal. Ingin bergerak. Ingin menaklukan dan berbuat banyak.

Sebagai mantan koresponden, pada tahun 2002, saya mendirikan koran Mingguan non Maenstream Dinamikanews. Dari sini, kemudian semua benar-benar berubah, bahkan sangat cepat, sangat cepat.
2006, dipercaya oleh teman-teman advokat untuk menjabat sebagai Direktur LBH (kantor hukum). Benar saja, bergerak cepat itu, sebabkan saya bisa mengendalikan semua hal.

Sampai disini, saya sungkan percaya, ungkapan teman-teman SMP, yang mengatakan, bahwa saya dulunya (serupa) anak idiot.

Dalam kisah ini, saya tidak sedang bicara tentang diri sendiri, sebenarnya. Saya yakin, banyak orang di luar sana, yang pernah atau sedang mengalami masa sulit: sakit mental, miskin, terlantar dan tak punya harga di tengah masyarakat, karena cuma punya nyawa.

Ini tentu sulit, lengah dan menyerah, pasti mati atau gila.

Saya tidak menghimbau, sebab saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, cuma orang biasa, yang kebetulan pernah hampir gila dan hampir mati.

Namun, jika boleh di ikut, saya mengajak kita semua, untuk melawan keadaan-keadaan buruk. Kondisi sulit dan situasi rumit. Caranya juga tidak sukar, kata ayah saya: berdoa, kuat, ikhlas, bergerak cepat dan bersyukur.

Jika ayah tak pernah meninggalkan pesan itu, mungkin saat ini, saya sedang berada di trotoar sebagai orang tak waras, atau di kuburan, karena kematian yang tak tertunda.