Berhenti Menyalahkan Hujan: Banjir Cermin Kegagalan Tata Ruang dan Drainase
Oleh: Erina Noviani, S.T., M.T.
Setiap kali banjir datang, narasi yang paling mudah muncul di ruang publik adalah satu kalimat yang terdengar “ilmiah” sekaligus menenangkan pengambil keputusan: curah hujan tinggi atau anomali cuaca. Kalimat ini seolah menjelaskan segalanya, sekaligus menutup pintu evaluasi yang lebih jujur. Padahal, menyebut hujan deras sebagai penyebab utama banjir adalah cara paling tidak adil untuk menyederhanakan persoalan, karena hujan adalah perilaku alami alam—sesuatu yang tidak bisa dan tidak seharusnya kita salahkan.
Hujan turun sejak ratusan tahun lalu. Yang berubah bukan hujannya, melainkan cara kita memperlakukan ruang. Kota dan kawasan permukiman hari ini dibangun dengan logika yang semakin jauh dari daya tampung alaminya. Sistem drainase tidak berkembang seiring dengan pertumbuhan bangunan. Daerah genangan air dan kawasan resapan justru diokupasi oleh beton. Sungai dipersempit, rawa ditimbun, lereng dibangun, dan kawasan sempadan air diperlakukan seolah tanah kosong tanpa fungsi ekologis.
Dalam konteks itu, banjir bukan peristiwa alam, melainkan konsekuensi kebijakan.
Sistem drainase adalah infrastruktur dasar yang sering diperlakukan sebagai pelengkap, bukan fondasi. Banyak kota dan kawasan permukiman tumbuh cepat tanpa perencanaan drainase yang memadai. Saluran air kecil yang dirancang untuk lingkungan berpenduduk rendah dipaksa melayani kawasan padat dengan perubahan tutupan lahan yang drastis.
Air hujan yang dulu meresap ke tanah kini langsung mengalir di atas permukaan keras. Ketika kapasitas drainase tidak pernah dihitung ulang, air mencari jalannya sendiri—dan jalur itu sering kali adalah rumah warga, jalan utama, dan fasilitas publik.
Menyebut banjir sebagai akibat hujan deras tanpa menyebut kondisi drainase adalah seperti menyalahkan darah ketika pembuluhnya tersumbat. Analogi ini penting agar publik memahami bahwa persoalan utama bukan volume air semata, tetapi ketidakmampuan sistem buatan manusia untuk mengelola air tersebut.
Narasi “anomali cuaca” terdengar modern dan global, tetapi sering digunakan secara lokal untuk menghindari tanggung jawab. Padahal, perubahan iklim sekalipun tidak bekerja sendirian. Ia memperbesar dampak dari kesalahan lama yang belum diperbaiki. Kota yang memiliki sistem drainase baik, kawasan resapan terjaga, dan tata ruang disiplin tetap bisa bertahan menghadapi hujan ekstrem.
Dengan kata lain, hujan adalah ujian, bukan terdakwa.
Ketika narasi publik terus-menerus menyalahkan alam, perhatian dan sumber daya pun salah sasaran. Diskusi berhenti pada cuaca, bukan pada evaluasi sistem. Padahal, justru di situlah pekerjaan berat pemerintah seharusnya dimulai.
Sumber daya negara dan daerah—anggaran, peralatan, dan sumber daya manusia—tidak sedikit. Persoalannya bukan semata kekurangan dana, tetapi prioritas penggunaan. Jika banjir dipahami sebagai persoalan struktural, maka investasi utama harus diarahkan pada perbaikan dan modernisasi sistem drainase, bukan sekadar respons darurat.
Perbaikan drainase bukan pekerjaan musiman. Ia membutuhkan audit menyeluruh: kapasitas saluran, kondisi fisik, keterhubungan antarjaringan, hingga integrasinya dengan sistem sungai dan kawasan resapan. Ini adalah pekerjaan teknis yang menuntut konsistensi, bukan proyek seremonial.
Dalam banyak kasus, pembersihan saluran dilakukan setelah banjir terjadi, lalu berhenti ketika air surut. Pola ini mencerminkan cara berpikir reaktif, bukan sistemik. Padahal, drainase adalah infrastruktur hidup yang harus dirawat secara berkala, dengan standar kinerja yang jelas.
Salah satu akar persoalan banjir terletak pada kebijakan perizinan bangunan. Kompleks perumahan, kawasan komersial, dan bangunan skala besar sering kali disetujui tanpa kewajiban sistem drainase internal yang memadai. Akibatnya, air hujan dari kawasan tersebut dibuang ke lingkungan sekitar tanpa pengendalian.
Setiap pembangunan seharusnya tidak hanya dinilai dari bentuk dan fungsi bangunannya, tetapi juga dari bagaimana ia mengelola air. Kewajiban memiliki sistem drainase yang baik, kolam retensi, dan area resapan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari izin pembangunan, bukan sekadar rekomendasi.
Tanpa aturan tegas dan pengawasan konsisten, pembangunan justru menjadi mesin produksi banjir baru.
Ada bagian dari persoalan banjir yang tidak bisa diselesaikan tanpa kejujuran. Banyak bangunan berdiri di lokasi yang secara geografis memang tidak layak: sempadan sungai, lereng perbukitan, daerah rawa, dan kawasan rawan genangan. Sebagian dibangun karena kebutuhan, sebagian karena pembiaran, dan sebagian lagi karena kebijakan yang terlalu longgar.
Mengakui bahwa ini adalah kesalahan bukan berarti menyalahkan masyarakat semata. Dalam banyak kasus, negara hadir terlambat dalam menyediakan hunian yang layak dan terjangkau di lokasi yang aman. Ketika pilihan terbatas, masyarakat membangun di tempat yang tersedia, meskipun berisiko.
Karena itu, solusi tidak bisa berhenti pada penertiban. Ia harus disertai dengan pengaturan tata ruang berbasis geografidan kewajiban pemerintah bersama mitra untuk menyediakan permukiman di lokasi yang seharusnya. Relokasi, peremajaan kawasan, dan pembangunan hunian baru harus dirancang sebagai bagian dari strategi jangka panjang, bukan langkah darurat pascabanjir.
Banjir akan terus berulang selama kita bertahan pada narasi yang salah. Selama hujan dianggap musuh utama, perhatian akan selalu teralihkan dari pekerjaan rumah yang sesungguhnya: memperbaiki sistem, menegakkan aturan, dan menata ulang ruang.
Reformasi tata kelola banjir membutuhkan keberanian politik untuk berkata bahwa ada keputusan masa lalu yang keliru. Ia juga membutuhkan disiplin birokrasi untuk memastikan bahwa kesalahan itu tidak diulang dalam setiap izin pembangunan baru.
Lebih dari itu, ia membutuhkan perubahan cara berpikir publik: bahwa banjir bukan nasib, melainkan hasil dari pilihan-pilihan yang bisa diubah.
Hujan akan selalu datang, dengan atau tanpa perubahan iklim. Yang menentukan apakah hujan menjadi berkah atau bencana adalah kesiapan sistem yang kita bangun. Menyalahkan hujan mungkin terasa mudah, tetapi ia tidak pernah menyelesaikan apa pun.
Jika banjir terus terjadi, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya seberapa deras hujannya, dan mulai bertanya seberapa serius kita menata ruang dan drainase. Karena di situlah jawaban yang sesungguhnya berada.***
*Mahasiswa S3 Doktor Ilmu Lingkungan Unila, Peneliti Hidrologi Center for Urban & Regional Studies (CURS)



