Bencana Kabut Asap: Koran “Republika” Panen Pujian, “TVOne” Justru Dicibir

Republika edisi 8 Oktober 2015 (dok bbcindonesia.com) TERASLAMPUNG.COM — Harian Republika menjadi pelopor media nasional yang membuat desain sangat simpatik sekaligus kritis terhadap bencana kabut asap di Pulau Sumatera dan Kalimantan....

Bencana Kabut Asap: Koran “Republika” Panen Pujian, “TVOne” Justru Dicibir
Republika edisi 8 Oktober 2015 (dok bbcindonesia.com)

TERASLAMPUNG.COM — Harian Republika menjadi pelopor media nasional yang membuat desain sangat simpatik sekaligus kritis terhadap bencana kabut asap di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Demgan desain yang menggambarkan kabut asal memenuhi sekujur halaman depan koran, Republika edisi 8 Oktober 2015 menjadi perbincangan publik, jadi viral di media sosial, dan menuai pujian.

Gaya yang ditampilkan Republika sepertinya kelanjutan dari gaya media cetak yang kerap menampilkan desain warna gelap (hitam) pada momen-momen kesedihan akibat bencana. Namun, yang ditampilkan Republika kali ini benar-benar berbeda.

Desain yang tak biasa membuat para pembaca susah membaca berita yang tersaji di halaman depan. Namun, pembaca tidak protes karena mafhum bahwa itu memang disengaja untuk memenuhi unsur artistik sekaligus menonjok kesadaran publik tentng bencana kabut asap yang sudah sangat membahayakan.

“Kabut asap” di TVOne (dok. merdeka.com)

Seolah ingin meniru Republika, stasiun televisi TVOne milik Aburizal Bakri baru-baru ini juga menampilkan kabut asap yang memenuhi layar kaca. Dalam acara berita “Kabar Petang”, Jumat (9/10) pembaca berita terlihat tidak begitu jelas karena “diselimuti” asap. Namun, kreativitas TVOne tidak mendapatkan sambutan publik seperti Republika.

“Itu sih niru-niru Republika yang kemarin,” kata Dwi Marwanto, warga Ciganjur, Jakarta Selatan.

Sementara Aloysius Wisnu Hardana di akun Facebooknya menulis: “Ketika Koran REPUBLIKA dan Majalah TEMPO menutup halaman depannya
dengan asap tebal, yang dituai adalah salut atas kreativitas dan
keberaniannya. Ketika TV One memenuhi ruang siarannya dengan
“asap”, yang dituai adalah segudang tanya ‘Mengapa tidak memenuhi ruang
siarnya dengan lumpur?’.

Dewi Ria Angela