Adhie Massardi: Kritik Rizal Ramli Agar Pemerintah Transparan
Adhie Massardi (dok teropongsenayan.com) JAKARTA, Teraslampung.com- Ketua Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi menilai, kritik yang dilontarkan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli terkait proyek listrik 35.000 MW dan pembeli...
| Adhie Massardi (dok teropongsenayan.com) |
JAKARTA, Teraslampung.com- Ketua Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi menilai, kritik yang dilontarkan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli terkait proyek listrik 35.000 MW dan pembelian pesawat Airbus A350 untuk Garuda Indonesia merupakan peringatan agar segala kebijakan transparan.
“Listrik itu punya publik, Garuda punya publik. Jadi Rizal berharap proyek publik harus dibuka di publik,” kata Adhie dalam diskusi bertema ‘Kabinet Ribet Ekonomi Mampet’ di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (22/8)
Oleh karena itu, Adhie mengingatkan kepada pemerintah agar tak selalu mengatasnamakan publik dalam setiap mengambil suatu kebijakan, jika pada prosesnya tak pernah dibuka ke publik.
“Apa yang menjadi kepentingan publik harus disampaikan ke publik,” katanya.
Kritik Menko Maritim Rizal Ramli dalam dua hari terakhir menyulut polemik karena langsung ‘menghamtam’ Wapres Jusuf Kala.
Kritik itu dilontarkan Rizal Ramli sehari setelah dirinya dilantik sebagai Menko Kemaritiman. Dalam kritiknya Rizal Ramli menyebutkan Kementerian BUMN yang berencana membeli pesawat baru untuk perusahaan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Menurut Rizal, pembelian pesawat baru belum perlu.
Rizal kembali melontarkan pernyataan kontroversial dengan mengatakan bahwa target pemerintah membangun pembangkit listrik 35.000 megawatt terlalu sulit dicapai. Dia menilai proyek yang dicanangkan Presiden Jokowi hingga 2019 itu tak masuk akal. Bahkan, ia menilai proyek itu adalah proyek ambisius Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Kritik itu dikabarkan membuat Jusuf Kalla marah dan mengancam akan mundur jika Presiden Jokowi tidak memecat Rizal Ramli. Namun, belakangan isu ancaman mundur itu dibantah staf khusus Waprea Jusuf Kalla, Husain Abdullah.
Bambang Satriaji





