Jaringan ’98 Klaim Reformasi Telah Mati!
Ribuan mahasiswa Trisakti melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (12/5/2015). Mereka menuntut pemerintah Jokowi untuk mengusut tuntas kasus Tragedi 12 Mei 1998 yang menewaskan 4 mahasiswa Trisakti. (Liputan6.com/Faiz...
BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com – Jaringan ’98, perhimpunan yang terdiri atas para mantan aktivis 1998, mengklaim saat ini reformasi telah mati. Menurut mereka, yang diwariskan tinggal kebebasan semu, yang ternyata tidak mampu mengangkat hajat hidup rakyat banyak.
“Selama 17 tahun reformasi telah melahirkan kebebasan, tetapi gagal menuntaskan agenda perjuangan terpenting menyangkut kesejahteraan rakyat seperti kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan. Selain itu musuh utama perjuangan Gerakan Reformasi 1998 yakni korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), semakin merajalela,” kata juru bicara Jaringan Reformasi ’98 Lampung, Ricky Tamba, dalam rilisnya, Senin (18/5).
Ricky mencontohkan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok yang saat ini diserahkan ke mekanisme pasar, sebagai salah satu indikasi gagalnya reformasi. Selain itu, kata Ricky, pendidikan dan kesehatan yang selama ini kunci peningkatan kemakmuran rakyat jadi komoditas mahal.
“Produksi usaha rakyat seperti pertanian sangat dikendalikan mafia dan tengkulak. Pengangguran dan kriminalitas meningkat hingga pedesaan. Lebih dari tigaratus kepala daerah dan tigaribuan anggota legislatif tersangkut kasus korupsi, dan kini ditiru banyak kepala desa korup,” tandasnya.
Ricky menegaskan, matinya reformasi disebabkan oleh 2 hal pokok yakni agresi neoliberalisme dan ‘ngawurisme’ yang menjangkiti mayoritas elite dan aktivis 1998 yang rela menjadi agen penjual bangsa.
“Bagaimana Indonesia maju kalau sumber daya potensial telah diserahkan ke asing melalui liberalisasi ekonomi-politik lewat amandemen UUD 1945 dan penerapan banyak Undang-undang yang melegalisasi agresi kapitalisme internasional hingga pelosok daerah? Bagaimana reformasi mau berhasil kalau mayoritas elite dan aktivis 1998 terjangkit ‘ngawurisme’, rela menjadi agen penjual bangsa, cuek masa’ bodoh terhadap nasib mayoritas rakyat miskin, hanya mikirin perutnya sendiri?” kecam dia.
Ricky berharap, pemerintahan Jokowi-JK harus tegas berpihak kepada kepentingan rakyat sesuai Nawacita dan berani melawan berbagai kepentingan yang akan menghancurkan Indonesia.



