Inilah Dua Rahasia PLN Lampung Mengalami Krisis Daya Listrik
Transmisi Listrik (ilustrasi) TERASLAMPUNG.COM– Mengatasi krisis listrik di Lampung tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selain keluhan panjang para pelanggan listrik di Lampung akibat listrik sering byar-pet, keluhan dan kecemasa...
| Transmisi Listrik (ilustrasi) |
TERASLAMPUNG.COM– Mengatasi krisis listrik di Lampung tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selain keluhan panjang para pelanggan listrik di Lampung akibat listrik sering byar-pet, keluhan dan kecemasan juga dialami oleh para pekerja dan petinggi PLN Lampung.
Secara bisnis, PLN menjadi tumpuan banyak pengusah yang akan menanamkan investasinya di Lampung. Investor yang hendak menanamkan modal usahanya di Lampung dan perlu pasokan listrik dalam jumlah besar harus rela antre panjang.
Secara kinerja, PLN mengklaim sudah berlaku profesional. Mereka mengaku sudah bekerja maksimal untuk mengamankan ketersediaan daya listrik, baik melalui pemeliharaan pembangkit listrik yang sudah dibangun di Lampung maupun dengan cara membangun pembangkit baru dengan mengandalkan tenaga panas bumi. Namun. apa daya, semua itu toh tak bisa mengatasi problem klasik: jumlah permintaan daya listrik tidak sebanding dengan jumlah daya yang ada. Alhasil, meskipun tahun ini, misalnya, masalah daya listrik bisa diatasi, tidak ada jaminan tahun depan krisis daya tak akan terjadi.
Di tengah kerja keras PLN Lampung mengatasi problem itu, kerap terjadi masalah yang tak kalah pelik. Problem itu hingga kini seolah menjadi rahasia, karena tidak (berani) diuarkan PLN ke publik. Misalnya, penolakan warga areal tanahnya dilalui jaringan listrik. Ini terjadi di sekitar Bukit Kemuning, Lampung Utara. Padahal, jaringan transmisi listrik di Bukit Kemuning merupakan jantung pasokan listrik dari interkoneksi Sumbagsel.
“Di Lampung Utara ada 9 warga yang menolak pembangunan jaringan transmisi melewati tanah mereka. Mereka maunya diberi ganti rugi dalam jumlah besar,”kata Manajer Distribusi PLN Lampung, Alam Awaludin, Jumat (2/10).
Penolakan juga dilakukan perusahaan besar. Antara lain adalah dari PT Sugar Group Company (SGC). Perusahaan ini merupakan penyokong dana terbesar Ridho Ficardo saat mencalonkan diri sebagai Gubernur Lampung. (Baca: “Hearing” Kelistrikan, PT SGC Mangkir).
Ketidakberdayaan PLN menghadapi para penolak surplus daya listrik Lampung terlihat jelas dari raut muka Manajer Distribusi PLN Lampung, Alam Awaludin, saat menjadi pemateri dalam acara workshop yang digelar Kedubes Inggris dan Yayasan Pelangi di Hotel Novotel Bandarlampung, Kamis lalu (1/10). Untuk sekadar menyebut nama PT Sugar Group Company saja, Alam terkesan tidak berani. Ia hanya menyebut ‘perusahaan yang itu’, seolah hendak minta maklum kepada para jurnalis bahwa pernyataannya tentang PT SGC adalah off the record.
“Tapi dengan ‘perusahaan itu’ sekarang sudah tidak masalah. Sudah ada pertemuan dengan pusat (maksudnya PLN Pusat) yang juga dihadiri Angkatan Udara,” kata Alam.
Tak jelas kenapa mesti harus ada keterlibatan Angkatan Udara untuk sekadar meminta agar PT SGC merelakan kawasan kebun tebunya dilalui jaringan transmisi listrik. Mau disimpan serapi apa pun publik di Lampung sudah tahu bahwa PT SGC terkait erat dengan Gubernur Lampung Ridho Ficardo. Semestinya, keberhasilan SGC mendudukkan Ridho Ficardo di kursi Gubernur Lampung berdampak positif bagi kerjasama dengan PLN sehingga pembangunan transmisi listrik berjalan lancar,
Dua rahasia itu melengkapi sejumlah penyebab lain yang membuat daya listrik di Lampung benar-benar nafsu gede tenaga kere alias letoy. Antara lain gangguan sejumlah pembangkit listrik di Lampung akibat kemarau, pemeliharaan PLTU Tarahan, gangguan transmisi, dll.
Oyos Saroso H.N.

