Gubernur Mirza Ajak Kampus Perkuat Hilirisasi dan Ciptakan Lapangan Kerja di Desa

Aug 22, 2026 - 12:00
Updated: 52 minutes ago
0 1
Gubernur Mirza Ajak Kampus Perkuat Hilirisasi dan Ciptakan Lapangan Kerja di Desa

Teraslampung.com, Bandarlampung -- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong perguruan tinggi menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), memperkuat hilirisasi komoditas pertanian, dan menciptakan lapangan kerja di desa.

Hal itu disampaikan Mirza saat menghadiri silaturahmi dan ramah tamah Rapat Kerja Nasional Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) I Tahun 2026 di Mahan Agung, Bandarlampung, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Menurut Mirza, Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang besar, terutama di sektor pertanian. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat karena keterbatasan kualitas SDM dan rendahnya nilai tambah produk pertanian.

“PDRB yang tinggi belum tentu bisa memakmurkan masyarakat. Kekayaan suatu daerah belum tentu mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa adanya SDM yang unggul,” kata Mirza.

Lampung merupakan salah satu daerah penghasil padi, jagung, singkong, kopi, dan kakao. Namun, sebagian komoditas tersebut masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah ke luar daerah untuk kemudian diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Mirza menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya keterhubungan antara potensi sumber daya alam, penguasaan teknologi, dan kualitas pendidikan. Perguruan tinggi, menurut dia, memiliki peran penting dalam menyiapkan tenaga kerja yang mampu mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah.

“Kesuburan tanah tidak otomatis meningkatkan kualitas SDM. Karena itu, kita harus menghubungkan kekayaan sumber daya alam dengan kualitas sumber daya manusia,” ujarnya.

Pendidikan harus sesuai kebutuhan industri

Mirza juga menyoroti kesenjangan antara jumlah lulusan sekolah menengah dan ketersediaan lapangan kerja. Ia meminta perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum dan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri serta perubahan struktur ekonomi daerah.

Menurut dia, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan berijazah. Kampus perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan, kreativitas, dan kemampuan menciptakan peluang usaha.

“Universitas harus beradaptasi dengan industri yang akan hadir di Provinsi Lampung. Kita harus menyiapkan SDM untuk bersaing, bukan hanya untuk mencari pekerjaan,” katanya.

Pemerintah Provinsi Lampung, kata Mirza, tengah mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi komoditas dan pengembangan industri berbasis potensi lokal. Upaya itu diharapkan tidak hanya bergantung pada investasi berskala besar, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri kecil di pedesaan.

Ia mencontohkan jagung yang dapat diolah menjadi pakan ternak, serta singkong, kopi, dan kakao yang memiliki peluang dikembangkan menjadi berbagai produk turunan.

Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah pengembangan teknologi tepat guna, seperti mesin pengering hasil pertanian. Teknologi tersebut memungkinkan komoditas diolah di desa sebelum dipasarkan sehingga meningkatkan nilai jual sekaligus membuka lapangan kerja.

“Kalau kita membangun ratusan unit pengering di desa, dampaknya bukan hanya terhadap pengolahan komoditas, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi desa,” ujar Mirza.

Ia menambahkan, teknologi yang digunakan tidak harus berasal dari luar negeri. Pengembangannya perlu disesuaikan dengan karakteristik komoditas, kebutuhan masyarakat, dan kondisi ekonomi setempat.

Usulkan program satu desa satu sarjana

Untuk mendukung agenda tersebut, Mirza mengajak perguruan tinggi swasta bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui program beasiswa, penguatan pendidikan vokasi, pengabdian kepada masyarakat, dan pelibatan lulusan perguruan tinggi dalam pembangunan desa.

Salah satu gagasan yang disampaikan adalah program satu desa satu sarjana. Program ini diharapkan dapat memperkuat ketersediaan tenaga terdidik yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pembangunan di tingkat desa.

“Di Lampung masih kurang sarjana, terutama yang memiliki kompetensi sains, teknologi, teknik, dan bidang industri. Karena itu, kita ingin menyiapkan anak-anak muda yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pembangunan,” katanya.

Mirza juga mendorong perubahan pendekatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, menurut dia, dapat ditempatkan dalam satu tim untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata di desa, mulai dari pengolahan hasil pertanian hingga pengembangan teknologi dan usaha lokal.

Ia menilai pembangunan desa membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Pemerintah berperan menyediakan kebijakan, kampus menghadirkan pengetahuan, dunia usaha membuka peluang investasi, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan.

“Intinya sekarang kita harus mengembangkan desa. Pemerintah memiliki kewenangan, kampus menghadirkan pengetahuan, dunia usaha membuka peluang investasi, dan masyarakat menjadi pelaku pembangunan. Kalau semuanya berkolaborasi, dampaknya akan jauh lebih besar,” ujarnya.

Transformasi ekonomi berbasis pertanian

Mirza mengatakan kebijakan nasional yang memperkuat kedaulatan pangan menjadi peluang bagi Lampung, mengingat sebagian besar masyarakatnya bergantung pada sektor pertanian, terutama padi, jagung, dan singkong.

Peningkatan kesejahteraan petani, menurut dia, dapat mendorong konsumsi rumah tangga sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi daerah. Namun, pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan kenaikan harga komoditas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menekankan perlunya perubahan struktur ekonomi agar petani dan masyarakat desa memperoleh manfaat lebih besar dari proses produksi hingga pengolahan hasil pertanian.

“Kita tidak boleh hanya menikmati harga komoditas yang bagus. Kita harus mendesain ulang struktur ekonomi agar masyarakat memperoleh nilai tambah yang lebih besar,” kata Mirza.

Menurut dia, keberhasilan transformasi ekonomi Lampung bergantung pada kemampuan daerah mengembangkan SDM, menerapkan teknologi yang sesuai, dan memperluas pengolahan komoditas di tingkat lokal. Dalam upaya tersebut, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari penyelesaian persoalan ekonomi dan sosial masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User