Eksplorasi Batu Melampaui Batas, Bukit Camang dalam Ancaman
Oleh: Muhammad Hakiem Sedo Putra
Aktivitas eksplorasi dan penambangan batu di kawasan Bukit Camang, Kelurahan Tanjung Gading, Kecamatan Kedamaian, Kota Bandar Lampung, semakin menunjukkan arah yang mengkhawatirkan. Pengambilan material batu yang dilakukan secara masif dan berulang telah mengubah wajah perbukitan secara signifikan. Lereng yang dulunya hijau kini terbuka, curam, dan nyaris tanpa vegetasi penyangga.
Bukit Camang sejatinya bukan sekadar tumpukan batu. Ia merupakan bagian dari sistem alam yang berfungsi menahan air hujan, mengendalikan aliran permukaan, dan menjaga keseimbangan lingkungan permukiman di sekitarnya. Ketika fungsi ini rusak akibat eksplorasi berlebihan, risiko bencana menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Secara alamiah, perbukitan berperan sebagai daerah resapan air. Vegetasi di lereng mengikat tanah dan memperlambat laju air hujan. Namun ketika lereng dipotong tanpa perencanaan yang matang dan lapisan tanah dibuka begitu saja, air hujan tidak lagi meresap, melainkan mengalir deras membawa material tanah dan batu ke wilayah bawah. Dalam kondisi seperti ini, banjir dan longsor bukan lagi kemungkinan, tetapi ancaman nyata yang menunggu waktu.Risiko tersebut tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga sosial.
Masyarakat yang tinggal di sekitar Bukit Camang berada pada posisi paling rentan. Kerusakan lereng dapat berdampak langsung pada rumah warga, jalan lingkungan, dan saluran air. Ironisnya, masyarakat kerap menjadi pihak yang menanggung dampak paling besar, sementara manfaat ekonomi dari aktivitas tambang tidak selalu dirasakan secara seimbang. Situasi ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pengelolaan sumber daya alam tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab melindungi keselamatan masyarakat.
Perizinan tambang, pengawasan lapangan, dan kesesuaian dengan tata ruang harus dijalankan secara konsisten. Pemerintah tidak boleh menunggu hingga bencana terjadi dan korban berjatuhan untuk kemudian bertindak. Pencegahan selalu lebih bijak dan jauh lebih murah daripada penanggulangan.
Di sisi lain, pengusaha tambang juga memegang peran penting. Keuntungan ekonomi tidak boleh mengabaikan etika lingkungan. Praktik penambangan yang baik seharusnya memperhitungkan stabilitas lereng, pengelolaan air hujan, serta rencana pemulihan lingkungan. Eksplorasi tanpa kendali justru berpotensi menciptakan masalah jangka panjang yang merugikan semua pihak, termasuk pelaku usaha itu sendiri.
Masyarakat sekitar pun tidak bisa hanya menjadi penonton. Kesadaran terhadap risiko lingkungan dan keberanian untuk menyuarakan kepentingan keselamatan bersama sangat dibutuhkan. Partisipasi masyarakat dalam mengawasi aktivitas tambang dan menyampaikan aspirasi secara konstruktif merupakan bagian penting dari upaya pencegahan bencana.
Bukit Camang hari ini berada di persimpangan. Ia bisa tetap menjadi bagian dari sistem lingkungan yang melindungi Kota Bandar Lampung, atau berubah menjadi sumber ancaman akibat eksploitasi yang melampaui batas daya dukung alam. Pilihan tersebut tidak hanya berada di tangan satu pihak, melainkan hasil dari keputusan bersama.
Jika pengelolaan lingkungan terus diabaikan, alam akan memberikan responsnya sendiri. Dan ketika itu terjadi, biaya yang harus dibayar tidak lagi sekadar ekonomi, melainkan keselamatan dan masa depan masyarakat Bandar Lampung.
*Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen di Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA); Ahli dalam bidang hidrologi forensik dan sumberdaya air. Aktif dalam riset pengelolaan sumber daya air, konservasi lingkungan, serta edukasi kebencanaan di masyarakat.



