Tekanan Digital dan Kesehatan Mental Anak yang Kian Rentan

Tekanan Digital dan Kesehatan Mental Anak yang Kian Rentan

Oleh: Mutiara Ayu

Gawai dan internet telah menjadi bagian dari keseharian anak dan remaja. Belajar, bermain, hingga berinteraksi kini banyak terjadi di ruang digital. Di satu sisi, teknologi membuka peluang besar untuk belajar dan berkembang. Namun di sisi lain, tekanan digital yang terus-menerus juga membawa dampak serius bagi kesehatan mental anak, sebuah persoalan yang semakin nyata dan tidak bisa diabaikan.

Anak-anak hari ini terpapar berbagai tuntutan yang tidak selalu terlihat oleh orang dewasa. Notifikasi yang tak henti, perbandingan sosial di media digital, komentar yang menyakitkan, hingga dorongan untuk selalu tampil “baik” di layar dapat menimbulkan stres, kecemasan, dan rasa tidak aman. Banyak anak merasa harus selalu mengikuti arus, takut tertinggal, atau takut tidak diterima oleh lingkungannya.

Berbagai survei menunjukkan bahwa semakin lama waktu anak di depan layar, semakin besar risiko munculnya masalah emosional, seperti mudah cemas, sulit tidur, dan menurunnya rasa percaya diri. Anak dan remaja juga lebih rentan mengalami kelelahan mental karena otak mereka belum sepenuhnya siap menghadapi banjir informasi dan tekanan sosial yang datang bersamaan.

Sayangnya, tekanan digital ini sering tidak disadari sebagai masalah serius. Anak dianggap “biasa saja” karena terlihat aktif, bermain gawai, dan tertawa di depan layar. Padahal, di balik itu, tidak sedikit anak yang merasa tertekan, bingung, bahkan kesepian. Anak sering kali tidak memiliki cukup kemampuan untuk memahami apa yang mereka rasakan, apalagi mengungkapkannya dengan kata-kata.

Sekolah dan keluarga memegang peran penting dalam menghadapi situasi ini. Pendekatan terhadap kesehatan mental anak seharusnya membantu mereka mengenali emosi dengan wajar, bukan justru membuat anak merasa “bermasalah”. Anak perlu diajak memahami bahwa merasa sedih, marah, atau cemas adalah bagian dari proses tumbuh, dan yang terpenting adalah belajar mengelolanya dengan sehat.

Orang tua dapat memulai dari langkah sederhana, seperti membangun komunikasi terbuka, menyediakan waktu tanpa gawai, dan menjadi pendengar yang aman bagi anak. Guru di sekolah juga dapat menciptakan ruang belajar yang tidak hanya menekankan prestasi akademik, tetapi juga rasa aman, empati, dan kebersamaan. Anak yang merasa didukung akan lebih kuat menghadapi tekanan, termasuk tekanan dari dunia digital.

Teknologi bukan musuh, tetapi harus ditempatkan secara bijak. Membatasi waktu layar saja tidak cukup tanpa pendampingan dan pemahaman. Anak perlu dibekali keterampilan hidup, seperti mengelola emosi, berpikir kritis, dan berani meminta bantuan ketika merasa tertekan.

Tekanan digital akan terus ada seiring perkembangan zaman. Tantangannya bukan bagaimana menjauhkan anak sepenuhnya dari dunia digital, melainkan bagaimana membantu mereka tumbuh sehat di dalamnya. Menjaga kesehatan mental anak adalah tanggung jawab Bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat agar anak tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga kuat secara mental dan emosional.***

*Mutiara Ayu, dosen pendidikan bahasa Inggris dan peneliti bahasa di Universitas Teknokrat Indonesia dan penulis lepas. Saat ini aktif meneliti isu literasi dan multibahasa di lingkungan pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar.