Rute Internasional Lampung: Gerbang Investasi atau Jalur "Capital Flight?"

Rute Internasional Lampung: Gerbang Investasi atau Jalur "Capital Flight?"

 Oleh: IB Ilham Malik *)

Dibukanya rute penerbangan Jakarta–Lampung–Malaysia merupakan sebuah langkah strategis yang patut diapresiasi. Dalam tahap uji coba, operasional berjalan dengan baik, konektivitas teknis tersedia, dan secara simbolik Lampung telah naik kelas dari sekadar bandara domestik menjadi simpul yang terhubung langsung dengan jaringan internasional. Namun sebagaimana lazim terjadi dalam pembangunan infrastruktur transportasi, persoalan utamanya bukan pada runway, terminal, atau slot penerbangan, melainkan pada ekosistem ekonomi yang menopangnya. Tantangan terbesar justru terletak pada penumpang, khususnya pada rute Lampung–Malaysia dan sebaliknya. Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: apakah rute ini akan menjadi instrumen masuknya kapital ke Lampung, atau justru menjadi saluran keluarnya uang masyarakat Lampung ke luar daerah dan luar negeri?

Penerbangan internasional tidak boleh semata dipandang sebagai simbol prestise daerah. Ia harus diletakkan sebagai instrumen kebijakan ekonomi wilayah. Dalam teori pembangunan regional, konektivitas adalah katalis, bukan tujuan akhir. Bandara, pelabuhan, jalan tol, dan rel kereta hanyalah prasyarat agar aktivitas ekonomi dapat tumbuh. Tanpa aktivitas ekonomi yang jelas, infrastruktur berisiko menjadi underutilized asset—mahal dibangun, tetapi tidak produktif secara ekonomi. Karena itu, rute Lampung–Malaysia harus dibaca sebagai peluang untuk mempercepat arus investasi, perdagangan, dan mobilitas bisnis, bukan sekadar mempermudah wisata belanja atau perjalanan konsumtif masyarakat.

Selama ini, pola arus keuangan Lampung menunjukkan gejala yang perlu dicermati. Uang dari Lampung mengalir deras ke Jakarta melalui konsumsi, perdagangan besar, jasa keuangan, hingga pembelian properti dan pendidikan. Dalam konteks penerbangan domestik, rute Lampung–Jakarta menjadi salah satu jalur mobilitas utama yang secara tidak langsung mencerminkan konsentrasi aktivitas ekonomi nasional di ibu kota. Jika pola yang sama terjadi pada rute internasional—di mana masyarakat Lampung lebih banyak membelanjakan uangnya di Malaysia daripada sebaliknya—maka yang terjadi bukanlah penguatan ekonomi daerah, melainkan perluasan skala capital flight.

Konsep capital flight dalam konteks daerah tidak selalu berarti pelarian modal dalam arti sempit. Ia bisa berbentuk kebocoran ekonomi (economic leakage), ketika pengeluaran masyarakat tidak berputar di wilayahnya sendiri. Lampung memiliki potensi ekonomi besar: pertanian, perkebunan, industri pengolahan, logistik, hingga pariwisata. Setiap tahun, nilai ekonomi yang bergerak di provinsi ini mencapai puluhan bahkan ratusan triliun rupiah. Namun pertanyaannya, berapa besar yang benar-benar berputar dan memperkaya struktur ekonomi lokal? Jika investasi besar masuk tetapi keuntungan, rantai pasok, dan nilai tambah justru dinikmati pihak luar, maka secara agregat Lampung tetap berada pada posisi periferal.

Di sinilah urgensi evaluasi berkala atas rute penerbangan internasional tersebut. Evaluasi tidak cukup hanya menghitung load factor atau tingkat keterisian kursi. Yang lebih penting adalah mengevaluasi struktur penumpang: siapa yang terbang, untuk tujuan apa, dan apa dampaknya bagi ekonomi daerah. Apakah didominasi wisata keluar negeri? Apakah pebisnis asing mulai masuk dan menjajaki peluang investasi? Apakah terjadi peningkatan ekspor langsung dari Lampung ke Malaysia atau negara lain melalui konektivitas ini? Indikator-indikator tersebut harus menjadi dasar kebijakan lanjutan.

Dalam perspektif pembangunan wilayah, konektivitas udara idealnya terintegrasi dengan strategi pengembangan kawasan ekonomi. Jika Lampung ingin menjadikan rute ini sebagai pintu masuk kapital, maka kawasan industri, kawasan pariwisata, dan sentra logistik harus disiapkan secara paralel. Investor tidak datang hanya karena ada pesawat mendarat. Mereka datang karena melihat kepastian regulasi, ketersediaan lahan, infrastruktur pendukung, dan proyeksi pasar yang menjanjikan. Bandara hanyalah gerbang; yang menentukan adalah apa yang tersedia di balik gerbang tersebut.

Malaysia, sebagai mitra rute awal, memiliki kedekatan geografis dan historis dengan Sumatera. Banyak pelaku usaha Malaysia yang familiar dengan karakter ekonomi wilayah ini. Peluang kolaborasi terbuka pada sektor agroindustri, energi, pelabuhan, dan pariwisata. Namun peluang tersebut tidak akan terwujud otomatis. Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan harus proaktif melakukan business matching, promosi investasi, dan penyederhanaan prosedur perizinan. Tanpa itu, penerbangan internasional hanya akan menjadi jalur satu arah: masyarakat Lampung pergi berbelanja atau berwisata, sementara arus masuk investasi tidak signifikan.

Bentuk “kemiskinan” yang perlu diwaspadai bukan sekadar rendahnya pendapatan per kapita, tetapi ketidakmampuan daerah mengakumulasi kapitalnya sendiri. Jika Lampung dimasuki investasi puluhan triliun rupiah setiap tahun tetapi struktur ekonominya tidak mengalami penguatan—misalnya industri lokal tidak tumbuh, UMKM tidak terhubung dengan rantai pasok, dan tenaga kerja lokal tidak terserap optimal—maka secara substantif daerah tetap rapuh. Uang masuk besar, tetapi efek penggandanya (multiplier effect) kecil. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menciptakan ketergantungan pada modal eksternal tanpa kemandirian ekonomi.

Karena itu, keberhasilan rute internasional harus diukur dari peningkatan investasi riil, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan sektor produktif, serta meningkatnya nilai tambah lokal. Pemerintah daerah dapat menetapkan target-target yang terukur: misalnya peningkatan jumlah kunjungan bisnis, pertumbuhan nilai ekspor langsung, atau realisasi investasi dari negara tujuan penerbangan. Dengan indikator yang jelas, kebijakan dapat disesuaikan secara adaptif.

Selain itu, strategi komunikasi publik juga penting. Masyarakat perlu memahami bahwa penerbangan internasional bukan hanya fasilitas perjalanan, tetapi instrumen pembangunan. Narasi yang dibangun harus mengarah pada kebanggaan produktif—bahwa Lampung menjadi tujuan investasi dan perdagangan regional—bukan sekadar kebanggaan konsumtif karena bisa terbang langsung ke luar negeri. Orientasi mental ini menentukan arah kebijakan dan perilaku ekonomi.

Peran sektor swasta juga krusial. Dunia usaha di Lampung harus memanfaatkan konektivitas ini untuk memperluas pasar dan menjalin kemitraan internasional. Kamar dagang, asosiasi industri, dan pelaku UMKM dapat difasilitasi untuk melakukan misi dagang atau mengikuti pameran bisnis yang terhubung dengan rute tersebut. Jika pelaku usaha lokal aktif, maka arus penumpang bisnis akan meningkat dan load factor rute menjadi lebih stabil secara ekonomi.

Pada akhirnya, rute Jakarta–Lampung–Malaysia adalah momentum. Ia bisa menjadi titik balik transformasi ekonomi daerah, atau sekadar episode singkat yang redup karena minimnya penumpang. Semua bergantung pada bagaimana kita memposisikannya dalam strategi pembangunan. Infrastruktur transportasi tidak pernah netral; ia memperkuat struktur ekonomi yang sudah ada. Jika struktur ekonomi Lampung masih didominasi konsumsi dan ketergantungan pada pusat, maka konektivitas baru akan mempercepat aliran keluar uang. Sebaliknya, jika struktur ekonomi diarahkan pada produksi, investasi, dan ekspor, maka konektivitas akan mempercepat arus masuk kapital.

Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi simpul pertumbuhan di bagian selatan Sumatera. Letak geografisnya strategis, sumber daya alamnya melimpah, dan kedekatannya dengan pasar domestik serta regional memberikan keunggulan komparatif. Penerbangan internasional harus menjadi bagian dari orkestrasi besar untuk mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi nyata. Dengan evaluasi berkala, integrasi kebijakan, dan orientasi yang jelas pada peningkatan investasi, rute ini dapat berkembang dan ramai secara sehat.

Tujuan akhirnya sederhana tetapi fundamental: memastikan bahwa setiap pesawat yang mendarat membawa peluang baru bagi Lampung, bukan sekadar membawa warganya pergi membelanjakan uang di tempat lain. Ketika arus kapital bergerak masuk lebih besar daripada keluar, ketika nilai tambah lokal meningkat, dan ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi yang nyata, saat itulah penerbangan internasional benar-benar menjadi mesin kemajuan daerah. Tanpa itu, ia hanya akan menjadi jalur langit yang indah dilihat, tetapi miskin makna bagi pembangunan.***

 

*) IB Ilham Malik - Dosen Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota ITERA, Direktur Eksekutif CURS (Center for Urban & Regional Studies) Indonesia.