"Anggraito" Seorang Pemimpin

"Anggraito" Seorang Pemimpin

Oleh: Sudjarwo

Kata “anggraito” berasal dari bahasa Jawa (krama/klasik), sering juga ditulis anggraita. Berdasarkana penelusuran Kamus Bahasa Jawa-Indonesia ditemukan makna utamanya adalah; menduga dengan kepekaan batin, menangkap makna yang tersirat, memahami sesuatu yang belum jelas secara rasional. Jadi bukan sekadar “menebak”, tapi menangkap maksud secara intuitif dan cermat. Dan, kepekaan ini dalam konsep budaya Jawa harus ada pada seorang pemimpin. Dari beberapa informasi media ditemukan justru saat ini banyak diantara pemimpin negeri ini kurang peka rasa penganggraitoannya. Agar lebih memahami, baik secara tekstual maupun kontekstual, maka dapat di simak dialog ini menggunakan “rasa batin” dimaksud.

“Pak Carik apakah sudah baca  laporan warga soal rencana pelebaran jalan itu?” tanya Pak Lurah sambil menutup map cokelat di mejanya.

“Sudah, Pak Lurah,” jawab Pak Carik pelan.

“Secara tertulis kelihatannya jelas. Tapi rasanya ada yang belum kelihatan.”

Pak Lurah tersenyum tipis. “Nah, itu yang sejak tadi saya pikirkan. Angkanya rapi, tanda tangan lengkap, tetapi suasana kebatinannya kok tidak setenang kelihatannya.” Pak Carik mengangguk.

“Waktu saya keliling tadi sore, beberapa warga diam saja. Tidak protes, tapi juga tidak sepenuhnya setuju. Saya merasakan seperti ada ganjelan.”

“Kalau begitu, kita tidak bisa hanya berpegang pada laporan,” kata Pak Lurah sambil menatap ke luar jendela. “Kadang yang tidak diucapkan justru lebih penting dari yang ditulis.”

“Benar, Pak,” sahut Pak Carik. “Kalau kita salah membaca perasaan warga, keputusan kita bisa memicu masalah baru.”

Pak Lurah menarik napas panjang. “Menjadi lurah itu ternyata bukan cuma soal aturan dan prosedur. Kita harus bisa ngrasakake, membaca arah angin, membaca sasmito, dan roso yang ada pada hati warga”.

Pak Carik tersenyum. “Orang tua dulu menyebutnya anggraito, Pak. Kemampuan memahami sebelum semuanya jelas.”

“Ya,” jawab Pak Lurah pelan. “Kalau kita tergesa-gesa, bisa-bisa kita merusak kepercayaan yang sudah lama dibangun.”

“Lalu langkah kita bagaimana, Pak?” tanya Pak Carik.

“Kita dengarkan lagi,” kata Pak Lurah mantap. “Datangi warga, ngobrol tanpa agenda resmi. Biar kita benar-benar paham apa yang mereka rasakan dan inginkan.”

Kemampuan anggraito merupakan salah satu kualitas batin yang sangat penting bagi seorang pemimpin, terutama ketika ia dihadapkan pada situasi yang tidak sepenuhnya jelas, penuh ambiguitas, dan sarat kepentingan.

Dalam kenyataan kepemimpinan, persoalan jarang hadir dalam bentuk hitam dan putih. Lebih sering, masalah muncul dalam kondisi remang-remang: informasi tidak lengkap, suara yang saling bertentangan, serta dampak keputusan yang belum sepenuhnya dapat diprediksi. Di sinilah anggraito menjadi kemampuan kunci, karena ia memungkinkan seorang pemimpin untuk menangkap makna di balik data yang terbatas dan membaca situasi secara lebih utuh.

Anggraito bukan sekadar kecerdasan intelektual atau kemampuan analisis logis. Ia adalah perpaduan antara kepekaan rasa, kejernihan batin, dan pengalaman yang diolah secara mendalam. Seorang pemimpin yang memiliki anggraito mampu mendengarkan bukan hanya kata-kata, tetapi juga diam, isyarat, dan suasana. Ia dapat merasakan kegelisahan yang belum terucap, memahami kebutuhan yang belum dirumuskan, serta menyadari potensi masalah sebelum masalah itu meledak ke permukaan. Dalam konteks ini, anggraito berfungsi sebagai kompas batin yang menuntun pemimpin ketika peta rasional belum sepenuhnya tersedia.

Pentingnya anggraito semakin terasa ketika seorang pemimpin harus mengambil keputusan di bawah tekanan waktu dan ketidakpastian. Tidak semua keputusan dapat menunggu data sempurna atau kajian panjang. Ada saat-saat ketika seorang pemimpin harus bertindak berdasarkan penilaian cepat yang tetap bertanggung jawab.

Anggraito membantu pemimpin menimbang mana yang mendesak, mana yang penting, dan mana yang dapat ditunda. Keputusan yang diambil dengan anggraito bukan keputusan yang sembrono, melainkan keputusan yang lahir dari kepekaan mendalam terhadap konteks, nilai, dan dampak jangka panjang.

Selain itu, anggraito juga berperan besar dalam membangun kepercayaan. Pemimpin yang mampu memahami situasi batin orang-orang yang dipimpinnya akan lebih mudah menjalin hubungan yang tulus. Ia tidak hanya memerintah, tetapi hadir sebagai sosok yang mengerti. Ketika anggota merasa dipahami, meskipun tidak selalu disetujui, mereka cenderung menerima keputusan dengan lapang. Anggraito memungkinkan pemimpin untuk memilih kata, sikap, dan waktu yang tepat dalam menyampaikan kebijakan, sehingga pesan yang sulit pun dapat diterima dengan lebih baik.

Dalam konflik, anggraito menjadi alat yang sangat berharga. Konflik sering kali tidak berakar pada persoalan yang tampak di permukaan, melainkan pada perasaan, persepsi, dan pengalaman yang tersembunyi. Pemimpin yang hanya mengandalkan aturan dan logika formal sering kali gagal menyentuh akar masalah. Sebaliknya, pemimpin yang memiliki anggraito mampu membaca lapisan-lapisan emosi dan kepentingan di balik konflik. Dengan pemahaman tersebut, ia dapat merumuskan solusi yang lebih adil, menenangkan, dan berkelanjutan.

Anggraito juga mendorong pemimpin untuk bersikap rendah hati. Kesadaran bahwa tidak semua hal dapat dipahami secara instan atau diukur secara pasti membuat pemimpin lebih terbuka terhadap masukan dan refleksi. Ia tidak terjebak pada rasa paling tahu, melainkan terus mengasah kepekaan batinnya melalui pengalaman, kesalahan, dan perenungan. Sikap ini penting agar kepemimpinan tidak menjadi kaku dan terputus dari realitas yang terus berubah.

Dalam jangka panjang, anggraito membantu pemimpin menjaga arah dan nilai. Di tengah perubahan cepat dan tekanan eksternal, pemimpin mudah tergoda untuk mengambil jalan pintas yang tampak menguntungkan sesaat. Dengan anggraito, pemimpin mampu merasakan apakah suatu keputusan selaras dengan tujuan dan nilai yang lebih besar, atau justru menyimpang meskipun tampak menguntungkan. Kepekaan ini menjaga kepemimpinan tetap berakar pada kebijaksanaan, bukan sekadar efektivitas teknis.

Pada akhirnya, kemampuan anggraito menjadikan kepemimpinan lebih manusiawi dan bermakna. Ia melampaui kemampuan mengatur dan mengendalikan, menuju kemampuan memahami dan menuntun.

Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, pemimpin yang memiliki anggraito akan lebih siap menghadapi persoalan remang-remang bahkan abu-abu dengan kejernihan, keteguhan, dan empati. Kemampuan inilah yang membedakan kepemimpinan yang sekadar berjalan dengan kepemimpinan yang benar-benar membawa arah dan harapan.***