Kopi Pagi: Manusia (2)

Tomi Lebang Dolar meroket, rupiah menukik. Lalu kita ramai berkisah tentang Jokowi, menyimak Agus Martowardojo, menelisik langkah Bambang Brojonegoro. Dari pelosok, kita mendengar kisah pedagang kecil, dari perbatasan kita mengikuti pertaruhan nasi...

Kopi Pagi: Manusia (2)

Tomi Lebang

Dolar meroket, rupiah menukik. Lalu kita ramai berkisah tentang Jokowi, menyimak Agus Martowardojo, menelisik langkah Bambang Brojonegoro.

Dari pelosok, kita mendengar kisah pedagang kecil, dari perbatasan kita mengikuti pertaruhan nasib pelintas batas, dari perkampungan industri kita terharu dengan cerita buruh yang menanggung keluarga kecil.

Dolar atau rupiah, bukanlah kisah menarik. Ia sekadar nama mata uang dan nilai tukar. Ia baru memantik rasa ingin tahu jika berkelindan dengan nasib manusia, jika yang didongengkan adalah nama-nama. Karena cerita, tulisan populer, adalah dongeng tentang manusia.

Itulah yang selalu diajarkan kepada para jurnalis muda bahwa: jika Anda ingin pembaca tertarik, menulislah tentang manusia. Mungkin pembaca tak paham benar soal komunisme tapi mereka ingin tahu siapa-siapa yang dibantai dan apa yang terjadi dengan keluarga Aidit. Mungkin mereka tak tertarik isu tambang galian C, tapi ketika Salim Kancil dianiaya sampai mati di Lumajang, dan gambar mayatnya berseliweran di linimasa, mereka ingin tahu siapa-siapa di balik massa yang brutal itu.

Pembaca menyukai kabar tentang manusia, bukan tentang benda-benda belaka. Naluri manusia adalah bergunjing — atau setidaknya ingin tahu — tentang manusia lain. Dari depan atau belakang, terang-terangan atau kabar angin.

Maka, tak perlu heran jika melihat seorang dengan dandanan parlente dan tampak cendekia, mampir di lapak koran, membentangkan Harian KOMPAS di halaman Opini, tapi anak matanya curi-curi pandang membacai judul-judul Tabloid Cek & Ricek. Kening boleh berkerut dengan warta politik, tapi naluri menuntun ke kabar gosip tentang manusia entah siapa.
Karena manusia, tertarik pada kabar tentang manusia…..