Kesombongan

Oleh: Sudjarwo Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila Pada saat menyiapkan bahan kuliah untuk mahasiswa pascasarjana dengan sumber mutakhir, membahas tentang bagaimana kesombongan kolektif dapat membuat ketersinggungan pihak lain; ala...

Kesombongan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Pada saat menyiapkan bahan kuliah untuk mahasiswa pascasarjana dengan sumber mutakhir, membahas tentang bagaimana kesombongan kolektif dapat membuat ketersinggungan pihak lain; alat komunikasi memberi sinyal ada warta yang masuk. Ternyata dari seorang sohib ideologis yang mengirimkan bahan ceramah oleh seeorang budayawan religius ternama negeri ini. Isinya juga pembahasan tentang kesombongan. Bagai tumbu mendapatkan tutup, maka semakin kaya khasanah tentang kesombongan bisa dibahas.

Sahdan seorang pendamping suatu kegiatan akademik dengan jumawa memberikan kuliahnya. Terselip beberapa kalimat yang didengar oleh mahasiswanya, kalimat itu menurut mereka tidak tepat karena terlalu menggeneralisir dan terlalu gegabah dalam mengambil kesimpulan. Apa lagi selalu dibumbui dengan menjelekkan pihak lain, termasuk pejabat atau siapa pun. Seolah dirinya yang paling berhak mengklaim kebenaran. Secara diam-diam para mahasiswanya memberikan penilaian kepada sang pembimbing. Akhirnya saat mereka diminta memilih pendamping kegiatan akademik, tak satu pun mahasiswa memilih beliau. Keadaan ini membuat pengelola akademik pusing, tetapi justru membuat sang pembimbing merasa senang senang saja karena tidak merasakan apa yang mahasiswanya rasakan. Sementara pihak pengelola akademik ingin berlaku adil dan proporsional dalam bidang keilmuan.

Di tempat lain ada seorang penceramah agama dengan lantangnya mengemukakan dalil-dalil yang sangat dikuasainya. Dan itu sangat mengagumkan orang lain untuk mendengarnya. Namun,  di setiap ujung ceramah beliau selalu mengagungagungkan dirinya. Secara perlahan tapi pasti penceramah ini akibatnya terkena saringan sosial yang kejam. Pada waktunya beliau tidak pernah lagi mendapatkan undangan untuk berceramah. Warga merasa tingkat kesombongannya tidak berbanding terbalik dengan penguasaan ilmunya.

Ada lagi seorang pemimpin sebelum pemilihan menjanjikan kepada konstituennya akan membangun sarana dan prasaran, Bahkan sampai pabrik es, rumah sakit, pasar dan SPBU pun dijanjikan untuk dibangun. Dengan kesombongannya, sang pemimpin menargetkan secara terinci.

Setelah menang dan berlangsung beberapa lama dilantik, janji itu dibawa angin lalu yang entah kapan kembali. Setiap diingatkan dengan jumawa menjawab, “Itu dulu, sekarang nanti dulu”.

Pada tempat yang berbeda, ada seorang dermawan yang selalu ringan tangan ingin membantu sesama. Hampir semua orang mengatakan beliau adalah tangan Tuhan yang diutus ke bumi. Beliau tidak pernah bicara, namun selalu berbuat dengan sepenuh tenaga untuk membantu orang lain. Di sudut hati paling dalam ada sebersit kalimat yang tak terucap: “Masa Tuhan nanti tidak membantu saya di alam sana.”

Ternyata dermawan ini tampak luar dan tampak dalam sesungguhnya berbeda. Beliau menantang Tuhan untuk meminta balasan atas kebaikan yang telah dia perbuat. Kesombongan sebesar debu inilah yang sebenarnya dapat merusakkan amalannya yang sebesar gunung. Beliau lupa keihlasan itu adalah menjadikan nol perasaan kita atas perbuatan baik kita.

Ternyata sombong itu dapat melanda siapa saja, tidak perduli apa latarbelakangnya. Hanya saja bisa kesombongan yang dilahirkan atau ditampakkan, baik melalui perbuatan maupun ucapan. Namun, ada juga kesombongan yang dipendam dalam hati, tidak terbaca oleh siapapun, kecuali hati nuraninya masing masing. Kesombongan yang terakhir ini sebagai kesombongan tingkat tinggi yang dimiliki oleh manusia; dan ini tidak terditeksi dengan alat pelacak kebohongan sekalipun. Inilah penyakit yang dikhawatirkan oleh orang orang suci terdahulu.

Berlaku ihlas itu memang sulit, oleh karenanya Tuhan mengingatkan lewat firman-Nya bahwa amal sekecil biji sawi pun akan ada perhitungannya. Tuhan tidak melihat besaran atau banyaknya amal, akan tetapi tingkat keihlasannyalah yang menjadi barometer utama. Akan menjadi lebih sempurna jika memang sudah banyak dan juga ikhlas. Bahkan Imam Al-Ghazali pernah menulis “Ada dua watak manusia yang aku tidak sukai, yaitu banyak tidur dan tertawa berlebihan; tetapi ada watak yang lebih aku tidak sukai lagi, yaitu berbangga (sombong) dengan ilmunya”.

Hal serupa ini pernah ditamzilkan oleh Tuhan kepada Nabi Musa, tatkala beliau bertanya apakah ada orang yang paling pandai selain dirinya. Tuhan memerintah Musa untuk menjumpai sosok orang yang ada di tepi laut. Di sanalah Musa belajar ilmu hakikat kepada Nabi Haidir yang diutus Tuhan untuk memberikan pembelajaran kepada Musa. Di sini Tuhan meneguhkan bahwa kesombongan itu hanya hak mutlak-Nya,  bukan pada mahluk ciptaannya.

Mari kita ubah rasa sombong sekecil apa pun yang ada pada diri kita, kepada rasa syukur kepada Tuhan atas kehendak-Nya kita masih bisa minum kopi pagi ini. Berapa banyak saudara saudara kita yang tidak bisa melakukannya karena sesuatu hal.

Selamat menikmati kopi pagi….