Spirit “Ekspedisi Indonesia Biru” Dandhy Dwi Laksono dan Suparta
Oki Hajiansyah Wahab Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz menempuh perjalanan hampir 20.000 km mengelilingi Indonesia selama satu tahun. Usia keduanya boleh dibilang tidak muda lagi. Dandhy Dwi Laksono (39) dan S...
Oki Hajiansyah Wahab
| Dandhy Dwi Laksono dan Suparta |
Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz menempuh perjalanan hampir 20.000 km mengelilingi Indonesia selama satu tahun. Usia keduanya boleh dibilang tidak muda lagi. Dandhy Dwi Laksono (39) dan Suparta Arz (34) berkeliling dengan sepeda motor hingga ke kawasan pedalaman di berbagai daerah di Indonesia.
Perjalanan tanpa dukungan dari sponsor ini tentu saja tak hanya menguras pikiraan, waktu, tenaga tapi juga biaya. Dandhy mengaku menabung selama lima tahun, termasuk menggunakan tabungan milik istrinya untuk melakukan ekspedisi ini. Meski tak pernah menyebut angka pasti dari beberapa cerita, saya menduga ratusan juta rupiah ia habiskan untuk ekspedisi yang dimulai pada 1 Januari 2015 silam. Satu hal yang penulis kagumi adalah pilihan Dandhy yang mengaku lebih baik belajar dari dan lewat ekspedisi ini dibandingkan mengambil studi S2.
“Setiap orang punya libido, dan inilah libido saya sejak lama, ekspedisi ini sudah dicita-citakan lima tahun lalu dan akhirnya sekarang sudah tercapai” katannya. Menariknya , meski menghabiskan biaya yang tak sedikit, Dandhy justru mengaku merasa bertambah kaya, kaya persaudaraan dan mendapat pengalaman baru yang luar biasa.
Meski dengan tujuan yang berbeda, perjalanan keduanya mengingatkkan saya pada Ernesto Guevara, yang pergi berkeliling Amerika Selatan bareng sohibnya, Alberto Granado. Pada tahun 1949 ia memulai perjalanan panjangnya yang pertama, menjelajahi Argentina Utara hanya dengan bersepeda motor. Selanjutnya pada tahun 1951 Ernesto Guevara kembali mengadakan perjalanan yang lebih panjang yang kemudian menghasilkan buku berjudul The Motorcycle Diaries.
Kembali ke ekspedisi Indonesia Biru, Dandhy dan Suparta mengendarai dua motor bebek 125 cc keluaran tahun 2003 dan 2005. Kedua sepeda motor itu juga sekaligus mengangkut bekal dan semua peralatan liputan. Seperti dilansir Antara Rute perjalanan yang dilalui Dandhy dan Ucok itu, antara lain menyusuri sisi selatan Pulau Jawa, Semarang, Yogyakarta, ke timur melintasi Bali, Nusa Tenggara, Timor, Papua, Kepulauan Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera menyusuri Aceh ke Mentawai (Sumbar) dan singgah di Lampung, dan kemudian bersiap kembali ke tanah Jawa singgah di Baduy lagi, sebelum kembali ke tempat awal melakukan perjalanan pada 31 Desember nanti.
Setahun perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru, enam hingga tujuh film dokumenter telah dihasilkan diantaranya adalah “The Mahuzes”, “Baduy”, “Lewa di Lembata”, “Kala Benoa”, “Samin VS Semen”, dan “Kasepuhan Ciptagelar”. Setahun ini berbagai pemutaran film karya Ekspedisi Indonesia Biru dilakukan di berbagai daerah dan kampus. Film-film produksi ekspedisi Indonesia Biru menggugah sekaligus membuka perdebatan publik.
Tema-tema film yang diangkat begitu dekat dengan realitas sosial dan menantang arus utama wacana yang ada. Lewat metode backpack journalism alias jurnalisme ransel, karya-karya hebat lahir dan mampu membuka mata publik. Konsep biru yang diusung Ekspedisi Indonesia Biru adalah sebuah konsep tentang kehidupan sosial yang berkeadilan secara ekonomi, arif dalam budaya, dan lestari bagi lingkungan.
Konsep ekonomi biru diperkenalkan pertama kali oleh Gunter Paulli, pendiri Zero Emissions Research Institute meninjau kekurangan berbagai kekurangan dari konsep ekonomi hijau. Konsep ini intinya berusaha memanfaatkan ketersediaan alam yang terbatas dan teknologi berorientasi pelestarian alam, menghemat biaya produksi dan konsumsi, memperbaiki kualitas hidup manusia dan makhluk alam, mengurangi risiko lingkungan hidup demi eksistensi dan keharmonisan manusia dan alam lingkungannya.
Mengusung konsep biru, Ekspedisi Indonesia Biru mendatangi komunitas-komunitas yang terpinggirkan oleh pembangunan maupun yang masih kuat memegang nilai lokal. Metode live-in dilakukan untuk mengumpulkan kisah-kisah perjuangan tersebut. Wajar, jika kemudian film-film yang dihasilkan begitu “membumi” dan lahir dari sebuah perspektif yang tajam.
Beruntung bagi Kota Metro yang menjadi salah satu kota persinggahan Ekspedisi Indonesia Biru. Beberapa kampus seperti sebut saja STAIN Metro dan Universitas Muhammadiyah Metro memang sudah tak asing lagi dengan film-film karya ekspedisi Indonesia Biru Beberapa dosen muda menggunakannya sebagai bahan diskusi di perkuliahan. Demikian juga dengan berbagai komunitas yang aktif memutar film ekspedisi Indonesia Biru di Layar Kamisan.
Wajar,ketika pemutaran film dilakukan meski dihari libur, GSG STAIN Jurai Siwo Metro penuh terisi mahasiswa dan berbagai komunitas yang telah lama menantikan kehadiran Ekspedisi Indonesia Biru. Tak hanya warga Metro, para kolega dari Bandar lampung juga turut hadir untuk menyaksikan film dan mendengar pengalaman Ekspedisi Indonesia Biru.
Terimakasih sudah berkenan menyinggahi Metro, meski kota ini bukan tujuan utama penjelajahan Ekspedisi Indonesia Biru. Persinggahan Ekspedisi Indonesia Biru jelang penghujung tahun ke Metro penulis yakini dapat menyebarkan semangat dan inspirasi baru. Semoga selamat sampai tujuan, bertemu dengan keluarga dan kerabat di Pondok Gede.
Tulisan ini juga dimuat di pojoksamber.com

