Dibuka Hari Ini, Pameran “Pamer Pamor” di Gedung DKL Hadirkan Semangat Lintas Generasi
Teraslampung.com -- Pameran seni rupa bertajuk “Pamer Pamor” yang digelar Dewan Kesenian Lampung (DKL) resmi dibuka pada Sabtu(29/11/2025) dan langsung menghadirkan kemeriahan melalui kombinasi seni visual dan sastra. Acara dibuka oleh Ketua Umum DKL, Prof. Dr. Satria Bangsawan, SE., M.Si., di pelataran Gedung Dewan Kesenian Lampung.
Pembukaan pameran diramaikan dengan pembacaan puisi oleh Edy Samudra Kartagama, yang membawakan dua karya berjudul “Teka-teki di Sudut Ruang” dan “Marsinah dalam Nyanyian Sunyi”. Nuansa puitis ini menjadi pengantar hangat untuk memasuki ruang pamer yang dihuni karya-karya lintas generasi.
Acara turut dihadiri para sesepuh perupa Lampung seperti Pulung Swandaru, Helmy Azeharie, dan Dr. Wiradi, serta perwakilan dari Perpustakaan Daerah Lampung, Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, dan UPTD Taman Budaya Lampung.
Instalasi Bernas, Gagasan Mendalam
Empat karya instalasi menjadi sorotan utama dalam pameran ini. Karya “Retak” oleh Dewa Nizar menuturkan filosofi tentang harmoni kehidupan—suka dan duka yang pada akhirnya menyadarkan manusia bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.
Sementara itu, Ari Susiwa Manangisi mempresentasikan instalasi “Siapa Kita?”, yang menyoal tentang identitas dan pentingnya pamor yang muncul dari pengakuan masyarakat luas, bukan sekadar dari kebanggaan internal. “Pamor harus ditunjukkan ke khalayak, seperti cahaya mutiara yang muncul dari kedalaman lautan,” ujarnya.
Kolaborasi menarik antara Alif Priyono dan Nizar menghadirkan instalasi “The Dialogue”, menampilkan interaksi simbolik antara hitam dan putih yang dijahit oleh lintasan benang sebagai metafora komunikasi dan kolaborasi.
Selain itu, kelompok Art Corner menampilkan karya “Bermuara ke Tanah Sumatera”, yang mengangkat kisah dekolonisasi serta narasi transmigrasi era kolonial 1900-an.
Seluruh karya terkemas apik di bawah penyelenggaraan Sanggar Seni Lampung Ornament bekerja sama dengan Komite Seni Rupa DKL.
Seleksi Ketat, Kualitas Utama
Ketua Panitia, Damsi Tarmizi, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan hasil kurasi lintas generasi. “Kami memutuskan 46 karya untuk dipamerkan—43 lukisan dan 4 instalasi—dan semuanya memiliki pamornya masing-masing,” ujarnya.
Ketua Komite Seni Rupa DKL, Sapto Wibowo, menegaskan bahwa kualitas menjadi fokus utama. Ia menyebut pameran ini turut menghadirkan perupa undangan dari berbagai daerah seperti Kalimantan Timur, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Jambi, dan Bengkulu. “Konsep karya dan teknik pengerjaan mereka sangat kuat,” ungkapnya.
Kurator pameran, David, menambahkan bahwa komposisi karya yang dipajang sangat beragam, mulai dari kontemporer, realisme, naturalisme, instalasi, hingga pop art. “Pelukis profesional dan pelukis muda hadir dalam satu ruang dengan satu tujuan: menampilkan pamor karya mereka,” jelasnya.
Damsi Tarmizi menambahkan, pameran ini mendapat respons positif dari masyarakat, terutama mahasiswa pecinta seni yang datang untuk berswafoto maupun melakukan riset. Penyelenggara berharap ke depan apresiasi masyarakat Lampung terhadap seni rupa semakin berkembang—bukan hanya dengan berkunjung, tetapi juga dengan mengoleksi karya.













