Optimistis Bandarlampung Menjadi Kota Layak Huni, Maju, dan Modern
Oleh: Suparwoko
"Kota yang baik bukanlah kota yang hanya membangun jalan, gedung, dan jembatan, tetapi kota yang membangun kualitas hidup manusia."
Dalam beberapa bulan terakhir, isu pembangunan kota kembali mengemuka di berbagai media nasional. Salah satunya diberitakan oleh LKBN ANTARA melalui artikel "HUT Ke-344 Bandarlampung Momentum Perkuat Pembangunan" (17 Juni 2026), yang menegaskan bahwa peringatan hari jadi kota harus menjadi momentum mempercepat transformasi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Di tengah meningkatnya kompetisi antarwilayah, pesan tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam. Kota-kota di Indonesia kini tidak lagi hanya berlomba menjadi besar, tetapi juga berlomba menjadi layak huni (livable), berdaya saing, tangguh, dan berkelanjutan.
Dalam konteks itu, Bandarlampung memiliki peluang yang patut disambut dengan optimisme. Letaknya sebagai gerbang utama Pulau Sumatera menjadikan kota ini memiliki posisi strategis yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Aktivitas perdagangan, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan jasa tumbuh semakin pesat. Namun, sejarah pembangunan kota di berbagai belahan dunia mengajarkan satu hal penting: pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas hidup masyarakat. Kota dapat tumbuh semakin besar, tetapi belum tentu menjadi tempat yang semakin nyaman untuk ditinggali.
Di sinilah konsep livable city menjadi relevan. Livable city bukan sekadar slogan pembangunan perkotaan, melainkan ukuran keberhasilan sebuah kota dalam menghadirkan ruang hidup yang sehat, aman, nyaman, produktif, dan inklusif. Kota yang layak huni tidak hanya menyediakan infrastruktur, tetapi juga memastikan setiap warga memiliki akses terhadap transportasi yang baik, ruang terbuka hijau, lingkungan yang bersih, pelayanan publik yang efisien, kesempatan ekonomi yang adil, dan ruang sosial yang memperkuat kohesi masyarakat.
Bandarlampung sesungguhnya memiliki modal untuk bergerak ke arah model kota tersebut. Lanskap pesisir, perbukitan, serta keberagaman budaya merupakan kekayaan yang dapat menjadi identitas kota modern tanpa kehilangan karakter lokal. Kota-kota terbaik di dunia menunjukkan bahwa kemajuan tidak lahir dari upaya menyeragamkan wajah kota, melainkan dari kemampuan mengembangkan keunikan lokal sebagai sumber daya pembangunan. Identitas adalah aset, bukan hambatan.
Namun optimisme harus dibarengi keberanian menghadapi tantangan. Urbanisasi yang terus meningkat membawa konsekuensi berupa kemacetan, berkurangnya ruang terbuka hijau, meningkatnya risiko banjir, tekanan terhadap kawasan permukiman, serta kebutuhan pelayanan publik yang semakin kompleks. Jika tidak dikelola melalui perencanaan yang adaptif dan terintegrasi, berbagai persoalan tersebut berpotensi mengurangi daya saing kota pada masa depan.
Karena itu, transformasi Bandarlampung tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Kota masa depan membutuhkan paradigma baru yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Jalan yang baik harus diikuti dengan transportasi publik yang nyaman. Kawasan komersial harus diseimbangkan dengan ruang terbuka hijau. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersama perlindungan lingkungan. Digitalisasi pelayanan publik harus diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan kata lain, kemajuan kota harus diukur dari kualitas kehidupan warganya.
Lebih jauh lagi, Bandarlampung memiliki kesempatan menjadi pelopor pembangunan perkotaan rendah karbon di Sumatera. Pengembangan bangunan hemat energi, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, pemanfaatan energi terbarukan, rehabilitasi ruang hijau, serta sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Di tengah ancaman perubahan iklim, kota yang mampu mengurangi emisi sekaligus meningkatkan ketahanan lingkungan akan memiliki daya saing yang lebih tinggi.
Keunggulan lain yang patut dikembangkan adalah ekosistem inovasi. Kota modern dibangun bukan hanya oleh pemerintah, tetapi melalui kolaborasi perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Kampus dapat menjadi pusat lahirnya inovasi, industri menjadi penggerak ekonomi, sementara masyarakat menjadi aktor utama dalam menjaga kualitas lingkungan dan ruang publik. Sinergi inilah yang melahirkan kota yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga terus belajar dan beradaptasi.
Bandarlampung tidak perlu menjadi Jakarta, Surabaya, atau Singapura untuk disebut sebagai kota maju. Bandarlampung cukup menjadi dirinya sendiri—kota yang mampu memanfaatkan posisi strategisnya, menjaga identitas lokalnya, dan membangun masa depan yang berpihak pada kualitas hidup masyarakat. Sebab, ukuran kemajuan sebuah kota bukanlah seberapa tinggi gedung yang dibangun, melainkan seberapa tinggi harapan yang dapat diwujudkan bagi setiap warganya.
Dengan visi yang jelas, kepemimpinan yang konsisten, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, optimisme bahwa Bandarlampung dapat menjadi livable city yang maju, modern, inklusif, dan berkelanjutan bukanlah angan-angan. Optimisme itu justru merupakan prasyarat pertama untuk mewujudkan masa depan kota yang lebih baik. Sebab setiap kota besar selalu berawal dari keberanian untuk membayangkan masa depan yang lebih baik daripada hari ini.***
*Prof. Ir. Suparwoko, MURP, PhD adalah Guru Besar Teknik Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0






Comments (0)