Anomali Sosial Negeri Ketoprak

Anomali Sosial Negeri Ketoprak

Oleh: Sudjarwo

Satu adegan kesenian ketoprak sedang berlangsung di satu panggung negeri ini. Sebelum adegan dimulai dua tokoh Kirun dan Kiran membaca naskah sambil diskusi di balik layar:

“Ran, aku ini kadang bingung, apa aku salah baca naskah atau memang ceritanya sudah terbalik," kata Kirun. 

“Kenapa lagi, Run? Jangan bilang ada lakon yang lebih aneh dari kemarin”.

"Ada. Ini soal penjambret yang mati karena menabrak tembok waktu kabur. Eh… yang dijambret malah diminta ganti rugi, ” kata Kirun. 

“Hah? Jadi tembok dan dompetnya korban jadi saksi, tapi yang disalahkan malah yang dirugikan?” tanya Kiran.

”Iya. Logikanya jungkir balik. Orang jatuh karena lari dari melakukan kejahatan, tapi orang lain yang jadi korbannya harus menanggung akibatnya”.

“Kalau begitu, Run, maling jatuh ke got juga bisa minta santunan ke dinas pekerjaan umum," Kiran tak bisa menahan tawa.

Kirun memegang perut karena  tak kuasa menahan tawa.

"Hehehe. Jangan-jangan nanti ada tulisan 'Hati-hati, berbuat jahat bisa ditanggung bersama'”.

“Lucu tapi ngeri. Kalau pelaku kejahatan saja bisa diposisikan sebagai korban, batas benar dan salah jadi kabur,"kata Kirun,  “makanya ketoprak zaman dulu jelas. Yang jahat ya jahat, yang salah ya salah”.

 “Sekarang peran ditukar. Penjahat pakai baju korban, korban disuruh mengerti, ” kata Kiran. 

Akhirnya orang takut membela diri. Takut nanti malah disalahkan! ”

“Lebih aman pasrah, ya Run?”

 “Iya, tapi negeri tanpa keberanian cuma jadi panggung sandiwara kosong!" entak Kirun.

“Dalangnya entah ke mana," tukas Kiran,"pemainnya kebingungan, penontonnya cuma geleng-geleng. ”

“Kalau begini terus, ketoprak tidak lagi lucu," kata Kirun.

"Tapi tetap kita tertawa Run… tertawa pahit, sambil bertanya dalam hati, apakah keadilan masih ikut main, atau sudah pulang duluan”.

Ketoprak, sebagai kesenian yang lahir dan tumbuh di wilayah bekas Kerajaan Mataram, sejak awal adalah panggung cerita tentang manusia: tentang kuasa, laku, dan akal sehat.

Ia memadukan humor, tragedi, dan petuah dalam satu tarikan napas. Namun di negeri yang kini terasa seperti panggung ketoprak yang salah kelola, cerita-cerita itu seolah keluar dari naskah, meloncat ke jalanan, ruang kelas, dan kantor-kantor, lalu berubah menjadi anomali sosial yang mengusik nalar.

Bayangkan sebuah adegan: seorang guru berdiri di depan kelas, menasihati murid-muridnya agar menjaga sikap, menghormati sesama, dan bertanggung jawab. Dalam logika pendidikan, itu adalah tindakan wajar, bahkan mulia. Namun di panggung ketoprak versi baru, adegan itu dipelintir.

Nasihat berubah menjadi tuduhan, teguran menjadi ancaman. Orang tua datang bukan untuk berdialog, melainkan melapor, seolah-olah kata-kata yang dimaksudkan membangun karakter telah menjelma kejahatan.

Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh justru menjadi ruang genting, tempat setiap kalimat ditimbang bukan dengan akal sehat, melainkan dengan rasa tersinggung. Dan, berujung orang tua lapor polisi untuk mempidanakan guru. Lucunya, itu dituruti oleh pihak yang harusnya mengayomi.

Adegan lain lebih absurd. Seorang penjambret terjatuh dan meninggal dunia setelah menabrak tembok saat melarikan diri. Dalam nalar hukum dan moral, peristiwa itu adalah konsekuensi tragis dari tindakan kriminal. Namun ketoprak anomali menulis ulang ceritanya: pihak yang dirugikan justru diminta bertanggung jawab, seolah-olah korban harus menebus nasib pelaku. Ketika aparat yang seharusnya menjaga rasa keadilan malah memberi ruang pada logika terbalik, publik dipaksa menelan ironi pahit. Keadilan tidak lagi berdiri di tengah, melainkan condong mengikuti sorak-sorai kekuasaan dan simpati yang salah alamat. Untung di negeri ini ada anggota dewan perwakilan yang masih waras, guna menyelamatkan muka negeri. Sekalipun ada yang mengatasnamakan “pihak yang dirugikan dengan logikanya”, masih tidak kehilangan muka untuk membela diri di ruang hampa.

Belum selesai penonton mencerna adegan itu, tirai terbuka pada kisah lain. Seorang pencuri motor gagal membawa hasil curiannya karena pemilik kendaraan mengamankan bagian penting mesin. Alih-alih lari atau menyerah, pelaku justru membakar motor tersebut. Api menyala bukan hanya pada rangka besi, tetapi juga pada nalar kolektif kita. Tindakan merusak menjadi ekspresi kemarahan yang dibiarkan, bahkan kerap dimaklumi. Dalam ketoprak ini, kegagalan berbuat jahat dibalas dengan kejahatan yang lebih besar, dan masyarakat hanya bisa menonton dengan dada sesak.

Rangkaian peristiwa itu bukan sekadar kumpulan kasus, melainkan gejala. Gejala dari masyarakat yang kehilangan kompas nilai. Ketika rasa benar dan salah menjadi cair, ketika tanggung jawab pribadi dikaburkan oleh perlindungan semu, dan ketika hukum diperlakukan seperti properti panggung yang bisa dipindah-pindah sesuai adegan, maka yang tersisa hanyalah kebisingan. Semua orang berteriak, tetapi sedikit yang benar-benar mendengar.

Satir penamaan “negeri ketoprak” bukanlah ejekan pada keseniannya, melainkan cermin bagi kita. Ketoprak sejati selalu punya pakem: ada tokoh bijak, ada penguasa lalim, ada rakyat jelata, dan ada pesan moral yang dititipkan di akhir cerita. Dalam anomali sosial yang kita saksikan hari ini, pakem itu diacak. Tokoh bijak dibungkam, penguasa abai, dan pesan moral tercecer di antara sensasi dan amarah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah normalisasi.

Ketika kejadian-kejadian ganjil itu diterima sebagai keseharian, ketika publik lebih sibuk berdebat di permukaan daripada membenahi akar masalah, maka remuk yang dirasakan bukan lagi retakan kecil. Ia menjadi keruntuhan pelan-pelan, nyaris tak terdengar, tetapi pasti. Kita tertawa getir, membuat lelucon, dan menyebutnya satir, padahal yang sedang kita hadapi adalah krisis empati dan akal sehat. Di titik itu, pertanyaannya sederhana namun mendesak: apakah kita masih penonton yang kritis, atau sudah menjadi figuran yang pasrah dalam ketoprak anomali sosial? 

Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing.