Khoirul Anam, Satpam Asal Lampung Peraih Rekor MURI dengan 13 Karya Ilmiah

Khoirul Anam, Satpam Asal Lampung Peraih Rekor MURI dengan 13 Karya Ilmiah
Khoirul Anam (Foto: Istimewa)

TERASLAMPUNG.COM--Seorang anggota satuan pengamanan (Satpam), Koirul Anam (28) atau akrab disapa Anam, warga asal Lampung meraih rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) setelah menerbitkan 13 karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional.

Anam sapaan akrabnya, adalah personel Satpam di bawah naungan PT Prima Karya Sarana Sejahtera (PKSS) kini bertugas di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara ini membuktikan, bahwa jabatan tidaklah menjadi penghalang untuk berpikir besar, dan terus bertumbuh.

Anam lahir dari keluarga sederhana yang tinggal di sebuah pedesaan di Desa Sinar Mulyo, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, yang dulunya memiliki cita-cita ingin menjadi TNI.

Sejak kecil hingga tumbuh dewasa, ia ditanamkan oleh almarhum kedua orangtunya dan ke-7 kakaknya akan nilai-nilai disiplin, kerja keras, dan kejujuran. Nilai-nilai itu ia pegang teguh, sejalan dengan budaya tempatnya berkeja sebagai Satpam di BRI.

Meski berasal dari keluarga sederhana dan tinggal di pedesaan di Lampung, Anam berprofesi Satpam ini mampu meraih rekor MURI berkat hasil karya ilmiah terbanyaknya, pada Jumat (30/1/2026). Selain itu, ia juga masuk sebagai salah satu dari 100 penulis populer di Indonesia.

Anam bukanlah Satpam biasa. Meskipun berprofesi sebagai satpam, ia berhasil meraih rekor MURI dari 13 karya karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional, serta gelar akademik S1 double degree dan Magister S2 Manajemen.

Kepada Teraslampung.com Anam menceritakan, pada  2018 dan ketika itu ia masih usia 20 tahun, memutuskan meninggalkan kampung halamannya pergi merantau untuk mencari pekerjaan ke Kota Jakarta, dengan membawa uang Rp1 juta dari orangtuanya sebagai bekalnya di perjalanan dan selama tinggal di perantauan.

“Saat itu saya pergi merantau untuk mencari pengalaman kerja, dan untuk bertahan hidup selama di Jakarta, hanya uang satu juta itu saja yang dibawa,”kata Anam, Rabu (11/2/2026).

Profesi sebagai personel Satpam di bawah naungan PT Prima Karya Sarana Sejahtera (PKSS) yang dipilihnya ketika tinggal di Jakarta. Selama bekerja sebagai Satpam, ia pun pernah ditempatkan di sejumlah lokasi dan salah satunya adalah pusat perbelanjaan.

Hingga akhirnya tahun 2022, ia ditugaskan di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok hingga saat ini. Namun di tahun itu (2022) juga, Ia sempat sakit kritis hingga alami koma. Melihat kondisi itu, keluarganya pesimis kalau dirinya bisa bertahan.

Tuhan berkata lain, ia mendapatkan berkah dan nikmat dengan diberikan kesembuhan dari penyakit yang dideritanya dan pulih seperti semula. Anam menyakini dan percaya, bahwa sakit yang dideritanya merupakan sebagai titik balik hidupnya.

“Dari sakit itu ada motivasi. Saya diberikan hidup di umur yang kedua ini, maka harus menjadi yang lebih baik lagi,”ucapnya.

Meraih Gelar S1 Double Degree dan Magister S2 Manajemen

Setelah aktif beraktivitas lagi, kata Anam, ia mulai menekuni dunia pendidikan dan penulisan. Mulanya, ia menulis hanya untuk mengisi waktu luang di sela-sela pekerjaannya sebagai Satpam yang bertugas di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Diakuinya, tertarik menulis dan melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar sarjana setelah ia mencoba berdiskusi dengan rekan kerjanya sesama Satpam yang kemudian pada akhirnya membuat berpikirnya akan masa depan.

“Umur 20-an tahun itu saya sudah menjadi Satpam, saat itu saya bertanya dengan rekan-rekan sesama satpam yang sudah usia 28-29 tahun. Saya coba bertanya ke mereka, di umur itu (28) sudah punya apa. Mereka jawabnya, punya kerjaan Satpam ini saja dan gaji juga sama,”ujarnya.

Dari situlah Anam berpikir, harapannya di usia 28 tahun nanti setidaknya ia sudah ada memiliki capaian gelar akademik. Pada saat itu, ia pun memutuskan melanjutkan pendidikan kuliah.

Pada tahun 2019, Anam menempuh pendidikan S1 double degree yakni S1 Manajemen di Universitas Pamulang (Unpam) melalui kelas karyawan, lalu S1 kedua di STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam dan lulus meraih gelar sarjana pada Tahun 2023.

Setelah meraih gelar akademik S1 double degree itu selesai, Anam kembali melanjutkan pendidikan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (UNSURYA), sebuah perguruan tinggi swasta berada di bawah naungan TNI Angkatan Udara di kawasan Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.

“Benar-benar tidak disangka, alhamdulilah di umur 28 tahun saya sekarang ini memiliki gelar S1 double degree, dan Magister S2. Biaya untuk kuliah itu, dari gaji saya sebagai Satpam,”ungkapnya.

Anam menuturkan, ia merupakan anak ke delapan dari tujuh bersaudara, sementara kedua ornagtuanya sudah lama tidak ada (almarhum). Kini hanya ke-7 kakaknya saja yang tinggal di kampung halamannya di Desa Sinar Mulyo, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus.

“Orang tua saya sudah tidak ada (almarhum), dan saat itu saya sedang melakukan penelitian untuk gelar sarjana S1,”kata dia.

Sebelum meninggal, kata Anam, keinginan orangtuanya pada saat itu ingin ke Jakarta untuk melihat ia di wisuda, dan ia pun berjanji akan membawanya ke Jakarta. Ternyata tuhan berhendak lain, ketika ia di wisuda meraih gelar akademik S1 orangtua sudah meninggal dunia.

“Meski orangtua sudah tidak ada, saya bisa buktikan meriah gelar akademik seperti harapan , impian juga keinginan saya dan almarhum orangtua,”ucapnya.

Aktif Menulis Riset Jurnal dan Buku hingga Raih Rekor Muri

Anam mengatakan, selain aktif menulis jurnal, ia juga telah menghasilkan karya delapan buku yang telah memiliki ISBN (International Standard Book Number) atau Nomor Buku Standar Internasional dan juga terdaftar di Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Tidak hanya itu saja, saat ini ia juga tengah menyelesaikan tiga buku lainnya melalui program kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan lewat Dana Indonesia.

“Alhamdulilah, untuk karya buku yang sudah publikasi itu ada delapan buku dan untuk tiga buku lainnya ini sekarang sedang saya garap,”ungkapnya.

Aktivitas menjadi Satpam dan menulis jurnal, semua dijalani Anam dengan semangat meskipun ada tantangan besar yang kerap menghadangnya. Tantangan besar itu, yakni tidak lain adalah masalah finansial.

Anam mengaku, setiap ia mau menerbitkan karya ilmiah ia harus pintar menyesuaikan pilihan media publikasi dengan kemampuan finansial dirinya.

“Ya jujur saja sih mas, dari segi pendanaannya itu untuk publikasinya. Karena untuk publikasi jurnal maupun buku, itukan perlu biaya tidak sedikit,”ujarnya.

Anam mengutarakan, suka menulis itu sejak tahun 2019 dan berawal dari menulis buku mutasi. Dari situlah ada keinginan mengembangkan karya tulis, ketika mengisi waktu-waktu ulang. Untuk membagi waktunya, Ia tetap mengutamakan pekerjaannya sebagai Satpam dan di sela-sela jam istirahat itulah ia memanfaatkan untuk menulis.

Selain itu, setelah pulang kerja menjalani rutunitas sebagai Satpam, dan untuk mengisi waktu luang itu ia manfaatkan untuk menulis buku atau jurnal, dan juga melakukan penelitian.

“Buku pertama saya saya tulis tentang biografi saya, yakni semasa kecil hingga masa kuliah dan juga tentang rekan-rekan kerja yang memiliki nasib yang sama,”kata dia.

Sementara untuk jam kuliah, Anam menyempatkan mengambil waktu pada hari Sabtu dan Minggu. Jika benturan dengan jam tugas Satpam, ia melakukan koordinasi dengan atasan yakni Danru dan biasanya ada pembackupan tugas tersebut.

Integritas, tanggung jawab dan juga semangat untuk terus belajar. Di waktu luang usai jam jaga setelah kelelahan berdiri berjam-jam, Anam menunjukkan kemampuan groundsmanship, proaktif, adaktif dan terbuka untuk terus berkembang.

Dari pengalaman langsung dilapangan, Anam merangkai riset. Isu yang diangkat Anam berkaitan dengan pengamanan objek vital, manajemen risiko perbankan hingga peran SDM dalam layanan.

Pengalaman menjaga keamanan nasabah bank, ia padukan dalam manajemen dalam literatur akademik. Hasilnya, 13 karya ilmiah lahir dan mengantarkannya meraih Rekor MURI, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi peningkatan layanan di BRI.

“Waktu itu saya meniliti kinerja Frontliner. Saat itu ada komplain, setelah diadakan penelitian sudah berkurang dan alhamdulillah hampir tidak ada komplain. Judul penelitian itu ‘Analisis Kinerja Frontliner Kantor Cabang Tanjung Priok’. Selain itu, ada juga penelitian lanjutannya yang sama, hanya tempatnya saja berbeda yakni Kantor Cabang Priok,”terangnya.

Hal yang dilakukan Anam, tidaklah seperti kebanyakan orang, ketika waktu istirahat setelah bekerja seharian, ia manfaatkan untuk menulis. Baginya, menulis adalah cara untuk memaknai pekerjaan sekaligus bentuk accountability atas tugas dan peran yang ia emban sebagai satuan pengamanan (Satpam).

Awalnya, hanya catatan laporan harian pergantian shift. Namun perlahan, catatan itu berkembang menjadi refleksi sebuah artikel ilmiah hingga buku. Apa yang dilakukan Anam menjadi contoh nyata accountability, hasil riset tidak hanya disimpan namun diterapkan dan memberi dampak langsung.

Rekor MURI diraih Anam tidak hanya prestasi pribadi, tapi tentang semangat kolaboratif. Kerjasama dalam insan BRI dalam membangun kualitas layanan, dan lingkungan kerja menjadi bagian penting. Menjadi Satpam di BRI, Anam mendapat ruang untuk tumbuh, belajar, menulis dan mengembangkan diri.

Dukungan moral dari pimpinan BRI tempatnya bekerja dan rekan kerja bukan hanya sekedar apresiasi, melainkan kepercayaan termasuk Satpam memiliki potensi untuk memberi nilai lebih, nilai integriti, kolaboratif, accountability, groundsmanship, dan costumer fokus hidup dalam keseharian kerja.

“Dari segi pengaman (Satpam) juga bisa seperti teller karyawan garda gterdepan (Frontliner), costumer service dan lainnya. Kita juga berhak setara untuk pendidikan, bahkan bisa lebih tinggi dari itu,”kata dia.

Dari kantor cabang BRI Tanjung Priok, Anam membuktikan bahwa ilmu dan mimpi tidaklah pernah mengenal jabatan. Dengan nilia-nilia Brilian Way dan ruang lingkup kerja sportif, karya bisa lahir dari mana saja. Sebuah teladan bahwa menjaga keamanan dan menjaga ilmu bisa berjalan beriringan.

“Untuk semua dan keluarga saya di kampung, rekor MURI ini persembahan terbaik saya. Walau dulu semasa kecil di kampung saya pernah dikatakan bodoh, tapi bisa buktikan saya bisa,”ungkapnya.

Anam mengungkapkan, soal kegigihan dan kerja keras, ia selalu teringat pesan orang tuanya. Menurutnya, sebagai pekerja ia harus selalu semangat dan bisa menunjukkan bahwa kita juga memang yang terbaik.

“Seperti pesan pernah disampaikan almarhum orangtua saya, bahwa kita tidak boleh memandang jauh ke depan sana, tapi kita kita lakukan yang ada di depan mata hingga menjadi yang terbaik,”ujarnya.

Ingin Jadi Dosen

Dari kisah yang diceritakannya itu, Anam mengaku masih banyak memiliki mimpi, salah satunya adalah mempublikasikan karya ilmiah di jurnal bereputasi tinggi seperti Scopus (Q1-Q4) untuk internasional dan SINTA untuk nasional. Jurnal ini, wajib melalui peer review ketat, memiliki impact factor tinggi, sitasi baik, dan dikelola secara profesional. 

“Saya ingin sekali karya tulis saya itu terakreditasi mungkin SINTA 2, SINTA 3. Ya atau juga Scopus 3, Scopus 4 gitu. Karena dari biaya itu tadi, saya belum bisa untuk ke hal itu,”katanya.

Selain terkendala biaya, Anam juga mengaku harus membagi waktu antara pekerjaan sebagai Satpam dan kegiatan akademiknya. Tak dipungkiri, ia sering mengorbankan waktu istirahat demi menyelesaikan penelitian dan penulisian karya ilmiahnya tersebut.

Hingga saat ini, Anam masih tetap bertahan bekerja sebagai Satpam di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara. Selain itu ia pun berharap, kedepannya bisa menjadi pengajar atau sebagai dosen sembari berusaha untuk mencapai titik tersebut.

“Ya, saat ini saya masih bekerja sebagai Satpam di BRI. Cita-cita saya ingin menjadi pengajar, guru atau dosen. Mungkin karena belum rezekinya, dan juga agak susah untuk masuk ke dunia itu,”pungkasnya.

Zainal Asikin