Karya Drawing Perupa Lampung Laku Terjual di Pameran “Ruang dalam Garis”

Karya Drawing Perupa Lampung Laku Terjual di Pameran “Ruang dalam Garis”
Karya Ari Susiwa Manangisi dengan judul Gadis Lampung, Pulpen diatas kertas A3 2026.

Teraslampung.com, BANDARLAMPUNG — Sejumlah karya drawing perupa Lampung terjual dalam pameran seni rupa bertajuk Ruang dalam Garis yang digelar di Dewan Kesenian Lampung, Kompleks PKOR Way Halim, Bandarlampung, Jumat, 23 Mei 2026. Pameran yang menjadi bagian dari peringatan Bulan Menggambar Nasional itu mendapat perhatian publik seni rupa di Lampung.

Pameran tersebut menampilkan eksplorasi drawing berbasis garis sebagai elemen utama pembentuk ruang visual. Para peserta tidak hanya mereproduksi bentuk, melainkan mengolah garis untuk membangun struktur artistik dan tafsir visual masing-masing.

Kurator pameran, David, mengatakan sebagian karya memperlihatkan penggunaan garis yang sistematis melalui pengulangan terukur sehingga menghasilkan ruang yang padat dan teratur. Sementara sebagian lain mengolah garis secara lebih bebas dan dinamis.

“Ini menunjukkan fleksibilitas garis dalam membangun ruang,” kata David.

Menurut dia, bidang kosong dalam karya drawing juga menjadi bagian penting dari komposisi visual. Ruang kosong diperlakukan sebagai elemen yang turut membangun keseimbangan dan ritme dalam karya.

Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah drawing Tumpukan Kura-Kura karya Edang Subandy. Karya tersebut mengangkat filosofi kura-kura sebagai simbol ketekunan, kemandirian, umur panjang, dan semangat pantang menyerah. Karya itu kemudian dikoleksi Anshori Djausal.

Selain itu, karya Gadis Lampung milik Ari Susiwa Manangisi juga terjual dalam pameran tersebut. Karya itu dinilai menonjol lewat olahan garis yang kuat sekaligus menghadirkan gagasan tentang pelestarian budaya lokal melalui medium drawing.

Pameran juga menghadirkan peserta undangan dari luar daerah. Pelukis asal Kalimantan Timur, Surya Dharma, ikut berpartisipasi melalui karya drawing berjudul Tarian Alam ukuran A3 tahun 2026.

Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Lampung, Sapto Wibowo, mengatakan pameran itu menjadi ruang untuk membaca perkembangan proses kreatif para perupa Lampung.

“Setiap karya merupakan representasi dari proses pengamatan, eksperimen, dan refleksi,” ujar Sapto. “Pameran ini bukan hanya ruang display karya, tetapi juga ruang pembacaan terhadap proses artistik di balik setiap karya.”

Melalui pameran tersebut, Dewan Kesenian Lampung berharap drawing tidak hanya dipahami sebagai teknik menggambar, melainkan medium eksplorasi artistik yang mampu membangun gagasan, struktur visual, dan identitas budaya.

Ch. Heru Saputro