Hanya Orang-Orang Malam yang Menemu Fajar
-- In Memoriam Rifian Al Chepy
Oleh Udo Z Karzi
KABAR duka datang lagi pada Jumat malam, 12 Juni 2026.
"Telah meninggal dengan tenang saudara kita yang tercinta, almarhum Rifian Hadi, S.Pd., M.Pd. (Cepi)...," begitu pesannya.
Saya membaca, diam beberapa saat, lalu mengetik kalimat yang paling sering kita tulis ketika kehilangan seseorang: "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga husnul khatimah."
Pendek. Sangat pendek. Padahal, sesungguhnya di belakang kalimat pendek itu berdesakan begitu banyak kenangan yang tidak sempat dituliskan.
Nama Rifian A. Chepy membawa saya kembali ke tahun-tahun 1990-an, masa ketika kami sama-sama mahasiswa Universitas Lampung. Masa ketika Gedung PKM—Pusat Kegiatan Mahasiswa—lebih sering kami olok-olok sebagai "Pusat Kos Mahasiswa" karena begitu banyak orang menghabiskan waktu di sana, dari pagi sampai malam, kadang sampai lupa pulang.
Di gedung itulah berbagai dunia kecil bertemu. Ada yang sibuk mengurus demonstrasi. Ada yang sibuk latihan teater. Ada yang sibuk main gitar. Ada yang sibuk jatuh cinta. Dan ada yang sibuk berpura-pura sibuk.
Saya termasuk penghuni yang lebih banyak berdiam di belakang meja redaksi Surat Kabar Mahasiswa Teknokra. Rifian berbeda. Ia memilih panggungnya sendiri: sastra, teater, diskusi, dan kehidupan kesenian kampus yang kala itu sedang bergairah-gairahnya.
Dalam antologi Daun-Daun Jatuh Tunas-Tunas Tumbuh yang diterbitkan SKM Teknokra tahun 1995, saya menemukan kembali jejak Rifian muda. Di sana termuat sebuah puisi berjudul "Dan Kita Akrab dengan Jarak Malam", ditulis pada 15 Maret 1994.
Judulnya saja sudah terasa sangat 1990-an. Panjang. Puitik. Sedikit muram. Sedikit sok filsafat. Tetapi justru itulah pesonanya. Dalam puisi itu Rifian menulis tentang generasi muda yang terjebak dalam gemerlap malam, diskotek, gengsi, mode, dan kekalahan-kekalahan yang dipelihara sendiri. Ada HIV, ada waria, ada Lee Cooper, ada Dr. Martens. Semua simbol yang pada zamannya terasa sangat dekat dengan kehidupan anak muda perkotaan.
Puisi itu tidak sedang mengajari. Ia lebih seperti catatan seorang anak muda yang sedang berusaha memahami dunia di sekelilingnya. Larik penutupnya sangat kuat: "hujan di atap rumah tak pernah kita kenali nadanya, deras, deras, deras, lalu hanyut pada kekalahan yang telah kita pelihara."
Saya membaca kembali puisi itu tiga puluh tahun kemudian dan merasa seperti sedang membuka album foto lama. Sebagian gambar memang telah memudar, tetapi suasananya masih terasa.
Begitulah puisi bekerja. Ia sering kali tidak menyelamatkan dunia. Namun, ia menyelamatkan ingatan.
Biografi singkat Rifian dalam antologi itu juga menarik dibaca ulang. Ia lahir di Bengkulu, 10 November 1972, kuliah di Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Unila, aktif di UKMBS dan Himbas. Yang paling menarik tentu pernyataannya tentang puisi: "Bagi saya, menulis puisi adalah suatu proses menuju keterbukaan mata. Bagi saya, menulis puisi adalah juga sebagai media penyampaian ide, rekaman peristiwa, cinta hingga kadang puisi menjadi buku harian saya tentang kehidupan. Dengan puisi pula saya bisa tertawa, walau kadang menertawakan kehidupan saya."
Kalimat itu terasa sederhana. Namun, di sana ada seluruh alasan mengapa seseorang bertahan menulis puisi, meskipun tahu penyair bukan profesi yang menjanjikan kekayaan. Puisi adalah cara melihat. Puisi adalah cara mengingat. Dan, kadang-kadang puisi adalah cara menertawakan hidup yang terlalu serius.
Rifian tidak hanya muncul dalam Daun-Daun Jatuh Tunas-Tunas Tumbuh. Puisi-puisinya juga termuat dalam antologi Menikam Senja, Membidik Cakrawala yang diterbitkan UKMBS pada 1997 dan antologi lainnya.
Pada masa itu, ekosistem sastra kampus memang sedang tumbuh subur. Anak-anak UKMBS dan Jurusan Bahasa dan Seni mendominasi berbagai penerbitan sastra mahasiswa. Ketika Daun-Daun Jatuh Tunas-Tunas Tumbuh diterbitkan, para penggiat seni dari UKMBS mengisi sebagian besar halaman buku itu. Dari Teknokra, kalau tidak salah, hanya saya yang kebagian tempat.
Entahlah mengapa. Padahal, saya tahu ada Affan Zaldi Erya yang puisinya sudah muncul di berbagai koran. Ada Anton Bahtiar Rifa'i yang menghafal puisi-puisi WS Rendra seperti orang menghafal mantra. Ada Sakwan Rejab yang rajin berdiskusi soal sastra.
Mungkin memang begitulah sejarah bekerja. Tidak semua orang yang hadir dalam suatu masa tercatat dengan proporsi yang sama. Namun, semua tetap menjadi bagian dari cerita. Dan semua layak dicatat.
Puisi Rifian tentang malam mengingatkan saya pada kalimat yang dulu sering berseliweran di ruang redaksi Teknokra saat begadang menjelang tenggat terbit.
"Hanya orang-orang malamlah yang akan menemu fajar." Kalimat itu sering diucapkan Anton Bahtiar Rifa'i. Entah sedang serius atau bercanda. Belakangan saya tahu kalimat itu merupakan modifikasi dari larik Chairil Anwar. Namun, bagi kami waktu itu, kalimat itu seperti semboyan tidak resmi para penghuni kampus yang lebih akrab dengan kopi daripada tidur.
Kami merasa muda. Kami merasa waktu tidak akan habis. Kami merasa pertemanan akan berlangsung selamanya. Ternyata tidak. Satu per satu nama mulai berpulang. Satu per satu kursi kosong bertambah. Satu per satu cerita berhenti di tengah jalan.
Penyair Ari Pahala Hutabarat, salah seorang sahabat terdekat Rifian, menuliskan perpisahan yang mengharukan: "Selamat jalan, sahabatku, Abangku. Banyak sudah cerita kita buat dan jalani, dan sebenarnya masih banyak dan panjang lagi kisah yang bisa kita tulis, kita pentaskan, kita jalani, tapi kau buru-buru balek, Pi. Kenanganku indah denganmu. Adios, Amigo. Semoga tenteram dan indah jiwamu. Rock'N Roll Never Die!"
Saya kira setiap orang yang mengenal Rifian akan memahami perasaan itu. Selalu ada rasa bahwa seharusnya masih ada waktu. Masih ada obrolan yang belum selesai. Masih ada pentas yang belum digelar. Masih ada kopi yang belum diminum bersama. Namun, kematian tidak pernah berkonsultasi dengan agenda manusia.
Selepas kuliah, Rifian memilih jalan pengabdian sebagai guru dan kemudian menjadi aparatur sipil negara. Saya tidak mengikuti secara rinci perjalanan karier birokrasinya. Namun, saya tahu ia tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia kesenian.
Ia tetap aktif berkegiatan budaya dan pernah memimpin Dewan Kesenian Metro selama hampir satu dekade, dari 2008 hingga 2017.
Itu menunjukkan satu hal penting: Ada orang yang berkesenian karena sedang muda. Ada pula orang yang tetap berkesenian setelah muda berlalu. Rifian termasuk golongan kedua. Dan, itu jauh lebih sulit.
Hari ini, ketika saya membuka kembali antologi tua, membaca lagi puisi-puisinya, dan mengingat kembali masa-masa di Gedung PKM, saya sadar bahwa sebenarnya para penyair tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka meninggalkan larik. Meninggalkan jejak. Meninggalkan kenangan yang sesekali muncul ketika kita membuka buku lama atau mendengar nama mereka disebut dalam percakapan.
Rifian A. Chepy telah mendahului kita. Namun, seperti hujan yang pernah ia tulis dalam puisinya, suaranya masih terdengar samar di atap ingatan. Deras. Deras. Deras.
Dan, malam yang dulu begitu akrab dengannya kini telah berujung pada fajar yang lain.
Selamat jalan, Rifian. Terima kasih untuk puisi-puisi, persahabatan, dan jejak yang kau tinggalkan di panggung seni Lampung.
Semoga tenteram di perjalanan panjangmu. Dan, semoga benar adanya: hanya orang-orang malam yang akhirnya menemu fajar. []






