Festival Bhineka Tunggal Ika Panggung Toleransi Positif

Kapolsek Pugung Kabuapten Tanggamus AKP  Irfansyah Panjaitan menyaksikan pemuka agama Katholik dari Pagelaran Kabupaten Pringsewu Romo Yosef Wiyoto dan Pengasuh YPI PP Nurul Falah Tanggamus KH Junaedi AR saling menyuapi di acara Festival...

Festival Bhineka Tunggal Ika Panggung Toleransi Positif
Kapolsek Pugung Kabuapten Tanggamus AKP  Irfansyah Panjaitan menyaksikan pemuka agama Katholik dari Pagelaran Kabupaten Pringsewu Romo Yosef Wiyoto dan Pengasuh YPI PP Nurul Falah Tanggamus KH Junaedi AR saling menyuapi di acara Festival Bhineka Tunggal Ika  dihelat Gusdurian dan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal Lampung. 

WAY KANAN, Teraslampung,com– Festival Bhineka Tunggal Ika dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional 2015 di Provinsi Lampung telah digelar dua kali, di Kabupaten Waykanan, Rabu 18 November dan di Kabupaten Tanggamus, Jumat 20 November mendapat respon positif dari sejumlah kalangan, baik pelajar, tokoh adat hingga aparatur penegak hukum.
   
Wakil Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Tanggamus Budi Ismail di Tanggamus menilai, Festival Bhineka Tunggal Ika dihelat Gusdurian dan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal Lampung di Jl Raya Gunung Tiga No. 134 Kecamatan Pugung sangat dipelukan.

“Kami mengapresiasi kegiatan tersebut mengingat mendorong kami yang muda-muda ini bisa menghargai perbedaan karena ada contoh riil,” paparnya.
   
Menjelang pemutaran film “Bulan Sabit di Kampung Naga” karya sutradara M. Iskandar Tri Gunawan, tokoh adat Tanggamus Buya Sayuti Ibrahim (lampung) dan H Suhadi AR (Sunda) berkenan berbagi tumpeng keberagaman dipersiapkan panitia yang selanjutnya diberikan melalui Kasat Binmas Polres Tanggamus AKP Djoko Sarianto.
 
 KH Junaedi AR, Bc. Hk Pengasuh YPIPP Nurul Falah Kabupaten Tanggamus dan Romo Yosef Wiyoto, tokoh agama Katholik dari Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu juga berkenan saling menyuapi nasi tumpeng keberagaman.
   
“Kegiatan kemarin event yang bagus. Selain menumbuhkan kesadaran dan penghargaan terhadap sesama, kesatuan Indonesia juga menjadi terjaga,” ujar Cahaya Suri Kasnawati, pelajar SMK Nurul Falah, Tanggamus.
   
Kamal, pelajar SMK Nurul Falah juga merasa Festival Bhineka Tunggal Ika merupakan kegiatan berguna yang mendorong tumbuhnya nilai toleransi mulai pudar.
   
“Menghadiri kegiatan kemarin menambah wawasan kita mengenai toleransi,” kata dia lagi.
   

Okti Priyanti, Muslimah, dan Brigita Cindy Feriyani, nasrani, keduanya pelajar SMAN 2 Blambangan Umpu Kabupaten Waykanan, menilai Festival Bhineka Tunggal Ika guna memperingati Hari Toleransi Internasional yang digagas Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Gusdurian Lampung di daerah itu sebagai ajang peneguhan penghormatan akan perbedaan.
   
“Saya hidup di Kampung Sriwijaya yang mayoritas penduduknya muslim, namun kami tidak saling melecehkan perbedaan. Acara-acara semacam Festival Bhineka Tunggal Ika tentu kami sambut positif,” kata Brigita didampingi Okti.
   
Penggiat Gusdudian Lampung Gatot Arifianto menambahkan, pertemuan lintas iman, suku semestinya sering terjadi guna menekan pergesekan. “Kenapa silaturahmi lintas iman dan suku hanya terjadi setelah ada pergesekan?” ujar dia.
   
Menurut Gatot, pertemuan-pertemuan intens lintas iman dan suku menjadi penting untuk selalu dilakukan guna menekan hal tidak diinginkan.

“Saya mewakili Koordinator Seknas Nasional Gusdurian mbak Alissa Wahid menyampaikan terima kasih untuk Pergunu dan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal diasuh WD Fatchurrochman Syam, pihak-pihak yang membantu hingga rekan-rekan media di Lampung atas totalitas dan kesediaannya menyuarakan pentingnya perdamaian dan toleransi di Bumi Ruwa Jurai,” kata Gatot.


Rl