BADKO HMI Sumbagsel Soroti Implementasi Program Hilirisasi Tebu di Lampung
Teraslampung.com – Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Bagian Selatan (BADKO HMI Sumbagsel) menyoroti pelaksanaan program hilirisasi tebu di Provinsi Lampung yang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ketua Bidang Eksternal BADKO HMI Sumbagsel, Hendra Gustami, mengatakan program hilirisasi tebu memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor perkebunan.
Menurut Hendra, hilirisasi tebu tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi gula, tetapi juga mencakup pengembangan berbagai produk turunan seperti bioetanol, energi listrik berbasis biomassa, pupuk organik, dan produk industri lainnya.
“Keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari bertambahnya luas tanam atau meningkatnya produksi. Yang paling penting adalah manfaat nyata yang dirasakan petani sebagai pelaku utama sektor perkebunan,” kata Hendra dalam keterangannya, Minggu, 7 Juni 2026.
Ia menjelaskan, program hilirisasi tebu di Lampung dilaksanakan pada lahan seluas 27.819 hektare yang tersebar di Kabupaten Lampung Utara, Lampung Tengah, dan Way Kanan. Program tersebut meliputi perluasan areal tanam, peremajaan tanaman melalui bongkar ratoon, peningkatan produktivitas lahan, serta penguatan keterkaitan antara sektor budidaya dan industri pengolahan.
BADKO HMI Sumbagsel, kata Hendra, akan menjalankan fungsi pengawasan sosial dan advokasi guna memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan. Pengawasan itu akan difokuskan pada ketepatan sasaran penerima manfaat, efektivitas penggunaan anggaran, keberlanjutan program, serta dampaknya terhadap kesejahteraan petani.
Berdasarkan data yang dihimpun organisasi tersebut, Lampung menjadi salah satu daerah prioritas nasional dalam pengembangan hilirisasi tebu. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku industri, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok tani agar program dapat berjalan optimal.
Hendra menilai hilirisasi tebu berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan kawasan agroindustri yang terintegrasi. Selain mendukung swasembada gula nasional, program itu juga dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian energi berbasis sumber daya domestik.
“Dengan tata kelola yang transparan dan akuntabel, program hilirisasi tebu diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat dan daerah,” ujarnya.






