Lirik Menjelma Visual: Proyek Musik "Terkutuk" Lisong Memantik Pameran Rupa
Teraslampung.com, YOGYAKARTA – Alunan distorsi gitar, dentum bas, dan ketukan drum organik yang bertenaga mendadak memecah keheningan di STAIRS Prawirotaman, Yogyakarta. Di tengah gempuran tren musik digital yang serba praktis dan ekonomis, sebuah grup musik bernama Lisong justru memilih jalan sunyi yang mereka sebut sebagai jalan "ngeyel".
Rabu sore (17/6/2026), Rain Rosidi bersama empat rekannya Eko, Vani dan Aji, membuktikan bahwa instrumen fisik konvensional belum mati. Mereka tidak hanya merilis lagu, tetapi juga memindahkan amarah, kegelisahan, dan kritik sosial dari ruang rekaman profesional ke dalam sebuah ruang pameran seni rupa bertajuk "Terkutuk".
Melawan Arus Digital dengan Sikap "Ngeyel"
Di saat banyak panggung beralih ke format elektronik demi menekan biaya, Band Lisong tetap teguh pada pendiriannya. Mereka menolak berkompromi dan hanya mau tampil dengan format full set band. Bagi mereka, energi dari gitar, bas, drum, dan vokal fisik memiliki jiwa yang tidak bisa digantikan oleh algoritma komputer.
Media musik ini menjadi senjata mereka untuk merespons situasi sosial, politik, baik di tingkat lokal maupun global. Isu-isu keseharian kelas menengah yang terjebak dilema sistemik, hingga perilaku koruptor yang tetap tersenyum tanpa rasa bersalah, diramu menjadi materi audio yang pekat.
Salah satu manifestasi paling nyata dari kegelisahan itu tertuang dalam lagu berjudul "Terkutuk". Sebuah lagu yang menjadi jangkar dari seluruh proyek ini, menceritakan tentang tebalnya dinding pembatas (border) antara masyarakat biasa dengan kaum elit penguasa. Lagu ini adalah jeritan tentang ketidakmampuan rakyat kecil untuk mengakses keadilan dan kekuasaan.
Saat Lirik Menjelma Rupa
Apa yang awalnya dirancang sederhana oleh Lisong untuk mencari ilustrasi visual (artwork) video, justru menggelinding menjadi bola salju kreatif yang masif. Respons para seniman yang diminta menerjemahkan potongan lirik Lisong ternyata sangat serius. Lukisan, drawing, dan berbagai bentuk karya rupa berdatangan. Merasa memiliki "hutang" apresiasi, Lisong akhirnya menggelar pameran fisik ini.
Sebanyak 25 karya seni rupa dari 30 seniman lintas disiplin—seperti Heri Purwanto, Syahrizal Pahlevi, Alodia Yap, Dwi Kartika Rahayu, Irwanto Lentho, Jajang Kawentar, Ambar Pranasmara, Andita Purnama Sari, Andy SW., Asep Prasetyo, Budiamin, Danny Irawan, Damiana Endah, Dedy Maryadi, Didi797art, Duvrat Angelo, Joan Miroe, Kasih Art, Mahendra Pampam, Norman Hendrasyah, Nugrahanto Widodo, Radetyo Itok, Tofan Siregar, Utin Rini, Yusup Dilogo, Yulikodo hingga Agung Pekik—turut memadati dinding pameran.
Salah satu seniman yang terlibat, Gus Black, membagikan kisah di balik proses kreatifnya yang emosional. Ia terispirasi oleh potongan lirik Lisong yang berbunyi: "Menari gila di Pesta Warisan".
"Saya mencoba menangkap emosi dari lirik tersebut lalu menerjemahkannya menjadi simbol, warna, dan bentuk," ujar Gus Black.
Sebagian peserta pameran.
Di tangan Gus Black, frasa “menari gila” diwujudkan lewat sapuan warna kontras seperti merah menyala, kuning neon, dan hitam pekat, lengkap dengan garis-garis spiral kacau yang menggambarkan energi liar tak terkendali. Sebaliknya, kata “Pesta Warisan” dihadirkannya melalui visual alat musik tradisional berukir kayu dengan dominasi warna emas dan cokelat yang hangat sebagai simbol akar budaya. Melalui pameran ini, Gus Black berharap pengunjung bisa mendengarkan potongan musik sambil merasakan perjalanan emosional lagu lewat mata mereka.
Kreativitas di Tengah Ketidakpastian
Pameran "Terkutuk" ini dibuka langsung oleh seniman kontemporer legendaris Indonesia, Arahmaiani. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap relevansi karya-karya yang dipamerkan dengan realitas hari ini.
"Di negeri kita ataupun di dunia, elit penguasanya memang serakah dan semena-mena, mengakibatkan penderitaan serius bagi rakyatnya. Krisis ekonomi memicu masalah sosial-politik, belum lagi rusaknya lingkungan hidup yang mengancam kehancuran," kritik Arahmaiani tajam.
Namun, di balik narasi yang kelam tersebut, Arahmaiani melihat secercah harapan pada proyek kolaborasi ini. "Nah, di saat seperti ini, di situasi yang gelap dan berbahaya, kreativitas manusialah yang harus diolah untuk bisa mengatasinya!" tegasnya.
Sore itu, STAIRS Prawirotaman tidak sekadar menjadi ruang pameran rupa atau panggung musik biasa. Ia menjadi sebuah ruang hibrida di mana audio dan visual melebur menjadi satu kekuatan yang utuh. Melalui 6 lagu yang dibawakan secara live—termasuk lagu "Terkutuk" dan 5 lagu baru yang belum pernah dirilis sebelumnya—Lisong bersama 30 seniman Yogyakarta berhasil membuktikan bahwa seni tidak boleh berjarak dari realitas sosialnya.
*) Jajang R Kawentar






