Riffian A Chepy, Mengharmonikan Seni dan Karier
Riffian A Chepy, Ketua Umum Dewan Kesenian Metro Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Dikbudpora Kota Metro Oleh A...
| Riffian A Chepy, Ketua Umum Dewan Kesenian Metro Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Dikbudpora Kota Metro |
Oleh Alexander GB
menggalang masa dan melakukan aksi mengkritisi penguasa, piawai dalam
membangun jaringan, supel, dan pemberani. Ia juga dianugerahi bakat
kecerdasan berbahasa di atas rata-rata, hal itu menjadi modal utama
dalam meniti karir dan berkeseniannya.
Akhirnya setelah sekian lama menunggu, sebentuk biografi singkat dari perjalanan seorang yang sangat saya
hormati, Rifian Al
Chepy bisa saya tuliskan. Meskipun tentu masih banyak hal yang pasti tak
tersampaikan. Kami biasa memanggilnya Mang Chepy, tapi sebagian orang
memanggilnya
Rifian.
tentangnya, baik ketika bertatap muka atau berdasar informasi yang saya peroleh
dari beberapa teman. Seru. Mungkin kata itu
yang tepat untuk menggambarkan lika-liku kehidupan sosok yang penampilannya yang tenang dan pecinta musik bergenrel Rock N roll ini,
Meski sudah terbilang
sukses tapi senyum ramah, hangat, dan sambutannya
yang bersahabat masih seperti ketika pertama saya mengenalnya. Jadi jangan
terkejut jika dia marah kalau tahu kita ke Metro sampai tak menghubungi atau
mampir ke rumahnya. Tapi, ya itu, kebiasaannya mengejek
halus ternyata belum hilang juga,
namun jujur suasana itu juga yang kami rindukan karena di baliknya selalu ada
motivasi.
batu akik
koleksinya, menikmati segelas kopi, sesekali berbincang dengan Taji (anak
tertua Chepy), mengamati koleksi tanaman hias dan burung-burung piarannya, kami
akan berbincang tentang dunia pendidikan, seni, tentang menulis, dunia
jurnalistik,
SDM yang kurang gereget, generasi muda yang enggan berproses
dan instan, tentang mahasiswa bermental
ayam sayur, ukmbs unila, atau tentang rencana membuat
kegiatan yang barangkali perlu dilakukan bagi kemajuan individu, masyarakat,
dan syukur-syukur peradaban di Lampung.
Metro, hampir setiap even kegiatan
budaya yang di gelar di Kota
Metro melibatkanya, mulai dari workshop, lomba, pameran
atau pun pagelaran dari berbagai cabang seni seperti teater, Musik, puisi, seni rupa, fotografi, dan kesenian rakyat hingga batu akik. Maklum saja Suami dari Hidayati ini
merupakan penggagas Dewan Kesenian Metro
sejak tahun 2003, dan tahun 2012 lalu didaulat oleh pekerja seni Metro sebagai
Ketum Dewan Kesenian Metro, dan sejak
2013 diberi amanah sebagai Kepala Bidang
Kebudayaan di Dinas Dikbudpora kota Metro.
berliku
| Riffian A Chepy, semasa mahasiswa |
pada peringatan hari pahlawan 10 November 1972,
Chepy dilahirkan di Kedurang
Bengkulu Selatan,
bernama lengkap Rifian Hadi.
Pada usia sekolah ia kembali harus pindah ke Bandar Lampung mengikuti kedua orang tuanya. Sekolah Dasar
ditempuhnya di SDN 1 Durian Payung Bandar Lampung. Sekolah Menengah Pertama
di SMPN Sumur Batu Teluk Betung, dan dilanjutkan di SMAN
4 Tanjungkarang, Bandar Lampung.
pada tahun 1988 akhirnya mengurungkan niatnya untuk menempuh pendidikan tinggi sekolah
seni, maklum perkebunan kopi yang menjadi mata pencarian orang tuanya harus ditutup
kerena program reboisiasi yang di galakkan oleh pemerinthan Orde Baru pada waktu itu.
Alhasil setamat SMA tahun 1990,
Chepy memutuskan untuk menunda niatnya
kuliah dan lebih banyak mengisi aktifitasnya di lorong King dan Pasar
Seni Enggal, hasratnya terhadap seni pada saat itu sudah ada walau belum fokus
pada salah satu cabang seni.
di Kedurang, Manna Bengkulu Selatan.
Selama di kedurang ia juga sempat mengajar
Bahasa Inggris di SMA yang baru
didirikan. Dia juga pernah melakoni profesi
mulai dari penerjemah, pekerja pabrik sawit, berdagang hingga menjadi vocalis
band rock untuk di daerah yang terkenal dengan durian temabaga itu.
| Chepy dan beberapa anggota UKMBS Unila |
angin mulai terbaca arahnya. Mungkin kalimat tersebut tepat untuk menyatakan
periode hidupnya ketika memasuki tahun 1992. Tepatnya saat ia diterima
sebagai mahasiswa FKIP jurusan Bahasa dan Seni FKIP Unila untuk program
study D3 Bahasa Inggris.
termasuk yang dikenal bengal dan doyan berkelahi. Tapi dia juga sangat aktif di
sejumlah organisasi, gemar mengorganasir masa dan orasi, baca puisi, dan menyanyi. Bengal tapi
pinter. Mungkin karena jaman susah ketika itu, dan juga mungkin karena latar
belakang keluarga yang membuatnya demikian. Yang pasti, capaian
yang sekarang ia dapatkan itu, jalannya sangat
panjang berliku.
tahun 1992 ia membentuk Teater
Kurusetra UKMBS Unila bersama Iswadi,
Panji dkk. Sejak itu kehidupan
teater kampus mulai bergeliat,
yang agak berbeda dengan gaya pendahulu mereka sebelumnya Didi Pramudya
Mukhtar. Hal yang membangkitkan
semangatnya, pada awal penerimaan mahasiswa baru
peminat teater ternyata cukup tinggi, sehingga
divisi ini mulai memiliki program latihan rutin dan melahirkan beberapa pementasan.
seniman dan aktivis itu membuat kita lebih
fleksibel
dan bisa gaul ke mana saja, karena seni itu universal dan tanpa sekat-sekat,” tegasnya.
tahun 1994 Iswadi, Panji Utama dan AJ Erwin memutuskan untuk mengembangkan
sastra dan teater di luar kampus mereka mendirikan Forum Semesta, lalu Iswadi medirikan taeter
Satu Lampung. Teater Kurusetra UKMBS
Unila yang baru eksis
sempat kehilangan panutanya, dan ia pun didaulat menjadi
sutradara, bersama rekan-rekan sengkatannyanya seperti Novi Balga,Muhamad
Thantowi, Wahyu Jatmiko, Juliandi, Jhoni Hendri, Cep Mangkuraya yang memiliki semangat
membangun teater kampus dan tetap berproses.
Kemudian lahir kembali angkatan berikutnya
seperti Ari Pahala Hutabarat, Maulana SW, Budi LPG, Neri Juliwan, Indra Putra, M. yunus dan Iin Mutmainah, Ardiansyah Zilalin
dan taeterKuruserta tetap eksis dan
kian berkembang di belantara teater Lampung.
Program studi ke S1 di fakultas yang sama, pada tahun 1995. Pada tahun ini lelaki bertubuh tegap terpilih sebagai ketua UKMBS Unila. Saat itu
UKMBS bisa disebut sebagai UKM terbesar di unila, anggotanya sangat banyak dengan divisi
yang terus berkembang dan semua kegiatan seni kemahasiswaan dan perguruan
tinggi terpusat di
sini. Cukup
banyak garapan sendratasik kolosal lahir seperti
Pesta Rakyat
Sakura, Recako
Tulang Bawang, lawatan Majapatih di Ruwa Jurai,Dayang Rindu, untuk tetaer
sendiri sebagai sutradara dan aktor Chepy bersama kelompoknya pernah
mementaskan, Berbiak dalam Asbak (Zak
Syorga), Aljabar, Geer (putu Wijaya), Aum (Putu Wiajaya), Pinangan (anton
Chekov) dan Pernah menjadi
Pemenang Harapan 1 pada Peksiminas Bandung Tahun tahun 1996
puisi dan essay beberapa karyanya termuat dalam antology puisi, Daun-daun Jatuh Tunas- tunas Tumbuh,
Menikam Senja Membidik Cakrawala, dari Jung: Ujung Pulau serta dimuat
dibeberapa surat kabar seperti
Lampung Post, Sumatera Post,
dan lain sebagainya
| Cheppy, saat menyampaikan kata sambutan pada acara Festival Putri Nuban 2014 |
Perjuangan sebagai pelaksanaan kata-kata
aktor dan sutradara teater, sosok
yang dikenal berani ini juga gemar membaca puisi, dan pernah menjuarai
berbagai even baca puisi. Karenannya ia sering
diundang oleh fakultas-fakultas yang mengelar acara seni tiap bulannya. Di era
92 hingga 98 gerakan mahasiswa dikampus juga memasuki masa yang kritis dan ia terlibat di banyak
gerakan mahasiswa , mulai dari persolan tanah Way Hui,
gerakan bubarkan senat mahasiswa, hingga gerakan tumbangkan Soeharto. Dan Chepy selalu lantang membacakan puisi, berorasi atau pun menjadi koordinator lapangan mengkritisi penguasa.
akan mementaskan Marsinah Mengugat
yang di cekal oleh Polda lampung dan Mundurnya panitia dari DKL sebagai penyelenggara, bersama Gunawan
Parikesit dan Andrian True yang disupport oleh LBH Bandar lampung tetap meggelar
pertunjukan ini bersama para seniman muda dan aktivis berbagai perguruan tinggi
di lampung.
Alumni FKIP tahun 1999, Chepy memasuki dunia kerja sebagai seorang guru. Ia
tercatat pernah mengajar bahasa Inggris dan seni budaya di SMP
Wiyatama, Pusdikba SMP Al-Kautsar dan Dosen Luar Biasa di ABA Yunisla untuk
mata kuliah Sastra Inggris. Tahun 1999 ia mendaftar
dan diangkat menjadi PNS di Way Kanan dan mengajar di Kecamatan Negeri Besar, ia aktif mengadvokasi persoalan guru lewat Forum Martabat
Guru Indonesia (FMGI) dan pernah menjadi penggurus DPP Federasi Guru
Independent Indonesia (FGII). Semasa ini juga bergabung sebagai fasilitator pendidikan Di Komite Anti Korupsi
(KoAK) Lampung. Segundang pengalaman dan
luasnya wawasan, khususnya konteks seni dan budaya
Lampung selama di UKMBS Unila, membuat Anshori Djausal dan
Rizani Puspawijaya tanpa ragu
memintanya untuk menjadi koordinator pada Program Pemberdayaan
Kampung Tua di Kabupaten Way Kanan, pada
kegiatan ini lah Chepy banyak menyambangi masyarakat adat lampung dan belajar
persoalan budaya masyarakat lampung secara langsung.
kembali di dunia teater
sebagaimana sebelumnya, namun
ia masih sempet aktif di
kepengurusan Dewan Kesenian Lampung sebagai anggota komite teater DKL.
Metro. Setelah menetap di Metro inilah ia membentuk
Dewan Kesenian Metro (DKM)
bersama para tokoh seni Metro, seperti Tato Gunarto, Sigit Rahmanto, Sugeng
Haryono, Syamsul Arifin, Rifian Al Chepy, Mustaan Basran, Fadila Yani, dan
Anthoni Marzuki.
seni pertama dilakukan tanggal 1 januari
2003 tersebut bertempat di kediaman Sigit Rahmanto dan berhasil membentuk
kepengurusan Dewan Kesenian Metro. Baru
delapan bulan Kemudian, tepatnya tanggal
23 Agustus 2003, kepengurusan periode pertama 2003-2008 yang dikomandoi oleh
Tato Gunarto dikukuhkan oleh Walikota
Metro Mozes Herman dan dihadiri oleh para pengurus Dewan Kesenian Lampung
(DKL). Pada bulan Austus 2012 ada
proses reorganisasi ditubuh Dewan
kesenian Metro, kepengurusan DKM kali
ini banyak di dominasi oleh generasi
muda, periode kepengurusan yang
akan berakhir pada tahun 2017 ini di ketuai oleh Rifian Al Chepy.
program awal ketika DKM baru berdiri, Kegiatan DKM lebih banyak memperkuat basis organisasi seni
di kampus, seperti di STAIN dan UM Metro, terutama untuk sastra dan tetaer.
Lalu terbentuklah embrio Teater UKM
IMPAS di STAIN, dan menghidupkan kembali
Teater Mentari di Universitas Muhammadyah Metro juga sanggar teater di
STKIP PGRI Metro.jejak yang ditinggalkan pada masa ini adalah terbitnya
antology puisi penyair Metro 100 M Dari
Gardu Jaga yang kebanyakan penulisnya adalah pekerja seni kampus di Metro.
pelatihan yang telah DKM laksanakan.
Misalnya workshop untuk seni rupa kontemporer, setelah workshop
berlanjut pameran, di akhir pameran DKM
juga acap mengadakan dialog dan sarasehan. Sebagai hasilnya beberapa karya pelukis Metro mereka
sudah menembus Galeri Nasional dan galeri-galeri lain di luar Lampung. Sebut
saja misalnya Firmansyah, Bernas Wahyu Widiarti, Edy Purwantoro, Rusmedi Jamaludin, Johni Putra, Mukhsin dan
lain-lain.
| Peresmian Pendidikan Inklusi di Metro oleh Unesco, 2013 |
mengurusi penyandang difabel yang berusia sekolah dengan menjadi ketua Pokja
Pendidikan Inklusi Metro yang telah diligitimed oleh perwakilan Unesco. Pendidikan Inklusi di Metro
bahkan menjadi model pendidikan inklusi pertama di Lampung. Di tengah kesibukannya itu ia masih mampu
meluangkan waktu menjadi redatur pelaksana pada Bulletin
Budaya
Disdikbudpora Metro.
daerah mulai memandang
budaya sama pentingnya seperti juga oleh raga, baik dari pendanaan maupun
pembangunan fasilitas.
terlalu penting siapa Ketua Dewan Kesenian,
yang lebih penting adalah kepala daerah
memiliki kepedulian
pada seni Budaya, sehingga seniman dapat berkarya dan men-regenarasi kaum muda
untuk berkreatifitas melalui seni,
dan sudah masanya organisasi
seni dan seniman mempunyai posisi tawar sendiri tanpa harus mengandalkan power istri
atau pejabat publik, karena itu akan instan,
yang harus menjadi strategi saat ini seniman terlibat dalam advokasi program
pemerintah agar sinergi dengan kebutuhan dan perkembangan seni kontemporer,
seniman bisa terus berkarya dan ada penghargaan
atas karya-karya mereka, dan pemerintah wajib mengambil peran di sana,” ujarnya.
| Saat merayakan ulang tahun bersama keluarga |
Biodata
Nama : Riffian A. Chepy, M.Pd.
Kedurang (Bengkulu Selatan), 10
November 1972
Solekarim
SE
Hadi
Hadi
Bidang Kebudayaan di Dinas Dikbudpora kota Metro (2013-sekarang)
Pokja Pendidikan Inklusi Kota Metro (2013-sekarang)



