Apa Iya Kita Masih Butuh Perpustakaan?
Oleh Udo Z Karzi
KABAR gembira datang dari Kotabumi. Pemerintah Kabupaten Lampung Utara sedang mengupayakan bantuan pemerintah pusat sebesar Rp10 miliar untuk membangun gedung perpustakaan tiga lantai. Lokasinya sudah disiapkan, di depan kompleks Islamic Center. Proposal sedang digarap. Tinggal berharap efisiensi anggaran tidak kembali menjadi hantu yang membatalkan mimpi.
Sebelumnya, Provinsi Lampung sudah punya Nuwa Baca Zainal Abidin Pagaralam, gedung perpustakaan modern lima lantai. Perpustakaan ini dibangun secara multiyears sejak 2018 dengan dana APBD Lampung senilai Rp70 miliar dan diresmikan pada 2 Mei 2024.
Lampung Barat memiliki gedung perpustakaan daerah senilai Rp10,183 miliar yang diresmikan pada Desember 2024. Way Kanan lebih dulu punya gedung perpustakaan dua lantai dengan anggaran sekitar Rp10 miliar, diresmikan pada Oktober 2022. Bandar Lampung pun membangun gedung perpustakaan lima lantai di Kemiling dengan dukungan anggaran Rp10 miliar untuk bangunan.
Wah, sebentar lagi kita punya banyak gedung perpustakaan keren. Kalau perlu, bikin lomba gedung perpustakaan termegah se-Sumatra. Pemenangnya mendapat piala berbentuk buku terbuka.
Tapi, maaf, ada pertanyaan kecil yang agak mengganggu: apa iya kita masih butuh perpustakaan?
Jangan buru-buru tersinggung. Ini bukan ajakan membongkar gedung perpustakaan, apalagi menyumbangkan koleksi bukunya kepada tukang loak. Perpustakaan tetap penting. Yang perlu kita pertanyakan ialah apakah gedung yang bagus dengan sendirinya akan membuat masyarakat gemar membaca.
***
Kita memang punya kecenderungan mengukur kemajuan dari apa yang kelihatan. Gedung megah gampang difoto, diresmikan, dipasangi prasasti, lalu dijadikan bahan laporan keberhasilan. Perubahan perilaku manusia jauh lebih merepotkan. Tidak bisa selesai dengan gunting pita dan tidak selalu bisa dibuktikan lewat foto pejabat berdiri di depan rak buku.
Gedung perpustakaan tiga lantai tentu membanggakan. Namun, kalau pengunjungnya hanya beberapa orang sehari, kita harus bertanya: siapa yang sebenarnya sedang kita bangun? Gedungnya atau kebiasaan membaca masyarakatnya?
Perpustakaan Way Kanan dibangun dengan harapan menjadi pusat kegiatan masyarakat, bukan semata-mata tempat membaca. Pemerintah setempat bahkan pernah menggagasnya sebagai etalase budaya daerah. Harapan yang bagus. Tetapi, harapan tetaplah harapan sampai ada kegiatan yang benar-benar menghidupkannya.
Begitu pula gedung perpustakaan baru Bandar Lampung di Kemiling. Bangunannya menjulang lima lantai, menelan anggaran sekitar Rp10 miliar untuk konstruksi. Namun, kesan sepi dan belum terlihatnya aktivitas kepustakaan yang hidup patut menjadi bahan evaluasi. Tentu, kesan sepi pada suatu waktu tidak otomatis membuktikan bahwa perpustakaan selalu sepi. Data kunjungan dan kegiatan terbaru perlu dibuka kepada publik.
Justru di situlah persoalannya. Kita membutuhkan ukuran keberhasilan yang lebih masuk akal daripada tinggi gedung, nilai anggaran, atau banyaknya buku yang tercatat dalam inventaris.
Jangan-jangan, kita terlalu sibuk membangun rumah untuk buku, sementara calon pembacanya masih betah tinggal di luar.
***
Persoalannya bukan semata-mata gedung. Persoalannya juga gaya hidup masyarakat kita yang semakin akrab dengan layar, tetapi belum tentu akrab dengan pengetahuan.
Jempol kita begitu cekatan menggulir video pendek, memeriksa kabar terbaru, menyukai foto, dan berdebat di media sosial. Dalam sehari, entah berapa ratus informasi melintas di depan mata. Kita merasa sibuk mengetahui banyak hal, padahal belum tentu sempat memahami satu hal secara mendalam.
Membaca buku membutuhkan kesediaan untuk berhenti sejenak, memusatkan perhatian, mengikuti gagasan, dan bertahan menghadapi halaman-halaman yang tidak selalu menyenangkan. Dunia digital menawarkan kenikmatan serbacepat. Belum selesai satu video, video lain sudah menunggu. Belum tuntas membaca satu berita, sepuluh berita baru muncul.
Kita hidup dalam kelimpahan informasi, tetapi sering kekurangan perhatian.
Tentu, jangan pula menyalahkan teknologi. Dunia digital justru menyediakan peluang besar untuk memperluas akses bacaan. Buku elektronik, jurnal daring, katalog digital, dan berbagai sumber pengetahuan bisa dijangkau tanpa harus menempuh perjalanan ke gedung perpustakaan. Persoalannya, apakah kita mampu memanfaatkan semua itu atau hanya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang lewat begitu saja?
Di sinilah perpustakaan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada urusan membangun gedung. Ia harus bersaing dengan kebiasaan digital, sekaligus membantu masyarakat menggunakan teknologi secara cerdas.
Anak muda tidak akan datang hanya karena ruangannya berpendingin udara dan interiornya Instagramable. Mereka akan datang jika menemukan sesuatu yang dibutuhkan: buku menarik, akses internet, ruang belajar, pendampingan, diskusi, kegiatan kreatif, dan kesempatan menemukan pengetahuan yang tidak diperoleh dari kebiasaan menggulir layar.
***
Perpustakaan harus berani keluar dari bayangan lama sebagai tempat menyimpan buku dan menjaga ketenangan. Ia mesti menjadi ruang perjumpaan antara buku, manusia, dan gagasan.
Tempat anak sekolah belajar mencari sumber yang dapat dipercaya. Tempat mahasiswa meneliti. Tempat guru memperbarui pengetahuan. Tempat petani mencari informasi tentang teknologi budidaya, pelaku usaha kecil belajar pemasaran digital, dan masyarakat berdiskusi tentang persoalan kampungnya.
Kalau perlu, pustakawan jangan hanya menunggu pengunjung datang. Bawalah buku ke sekolah, pasar, pekon, komunitas, dan ruang-ruang tempat warga berkumpul. Bangun layanan digital yang mudah diakses. Selenggarakan klub membaca yang tidak membosankan. Ajak penulis bertemu pembaca. Buat kegiatan yang menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah daerah juga perlu membuka data secara berkala: berapa pengunjung aktif, berapa buku dipinjam, berapa kegiatan literasi berlangsung, siapa yang memanfaatkan layanan digital, dan apa manfaatnya bagi masyarakat. Jika pengunjung sedikit, cari penyebabnya. Jika koleksi tidak menarik, perbarui. Jika lokasinya sulit dijangkau, kembangkan layanan jemput bola.
Gedung yang layak tetap diperlukan. Kita tidak mungkin mengembangkan layanan perpustakaan yang baik kalau ruangannya sempit, koleksinya terbatas, dan fasilitasnya kedodoran. Tetapi, gedung adalah sarana, bukan tujuan akhir.
Jadi, apa iya kita butuh perpustakaan?
Iya, kita membutuhkannya. Tapi, bukan sekadar sebagai monumen kebanggaan pemerintah daerah. Bukan pula gedung cantik yang ramai ketika peresmian, lalu lengang setelah kursi-kursi dirapikan.
Kalau Lampung Utara berhasil membangun perpustakaan tiga lantai, mari kita sambut dengan gembira. Namun, setelah pita dipotong dan pejabat pulang, pekerjaan yang sesungguhnya justru dimulai.
Jangan sampai gedungnya tiga lantai, tetapi minat bacanya masih di lantai dasar. Jangan sampai bukunya ribuan, tetapi yang membaca bisa dihitung dengan jari. Jangan sampai kita bangga memiliki perpustakaan modern, sementara masyarakat lebih hafal isi beranda media sosial daripada isi satu buku.
Sebab, perpustakaan yang hebat bukanlah perpustakaan yang paling tinggi gedungnya, melainkan yang paling jauh menjangkau pikiran masyarakatnya.
Kalau itu belum tercapai, barangkali kita bukan kekurangan gedung perpustakaan. Kita sedang kekurangan alasan untuk membaca, kebiasaan untuk berpikir, dan kemauan untuk menjadikan pengetahuan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tabik. []
___________
Udo Z Karzi, jurnalis-penulis, tinggal di Bandar Lampung.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)