Berkali-kali kau ngomong di media menanggapi persoalan-persoalan yang seharusnya menjadi bidangmu. Tapi berkali-kali pula kau memperlihatkan bahwa kau tidak siap dan bahkan tidak mengerti akan fungsi jabatanmu. Yang terakhir, ketika menanggapi soal konlfik dengan KPK yang diciptakan oleh administrasi pemerintahan presidenmu itu, kau mengatakan ‘KPK didukung oleh rakyat tidak jelas.’
Begini ya Djo. Yang milih boss-mu dulu itu adalah pemilih-pemilih yang sama sekali tidak jelas. Mereka adalah pemilih-pemilih yang tidak beridentitas. Mereka tidak bernama, tidak diketahui agamanya apa, tidak bersuku. Tidak juga diketahui apakah mereka kaya atau miskin.
Apakah kamu paham mengapa pemilih itu harus tidak jelas, tidak beridentitas? Itu untuk memberikan kesempatan kepada setiap orang agar bisa menyuarakan hati nuraninya secara bebas. Mereka harus bebas dari tekanan dan paksaan dari siapapun. Itu sebabnya mereka perlu pergi ke bilik. Mereka mencoblos secara rahasia. Mengapa harus rahasia? Itu untuk melindungi mereka agar tidak menanggung akibat dari apapun dari pilihan mereka dikemudian hari. Itulah inti dari demokrasi politik Djo!
Jadi, jelas kan? Pemilih-pemilih boss kau itu, yang mendudukkan dia di kursi kepresidenan, adalah orang-orang yang tidak jelas ini. Orang-orang tak jelas ini pula yang mengangkat dia ke kemuliaan tertinggi di negeri ini. Yang meletakkan dia di istana. Yang memberinya pesawat kepresidenan. Yang membeayai pengawalannya. Yang membayar makan dan minum dia dan keluarganya. Yang memberikan dia status setara raja, presiden, atau perdana menteri di negeri-negeri lain. Sedemikian tingginya status itu sehingga dia dipanggil ‘Yang Mulia.’
Djo, secara tidak langsung, kau memperoleh jabatanmu karena orang-orang tak jelas yang memilih boss kau ini. Bahkan kau sendiri merasakan manfaat ketidakjelasanmu pada waktu pemilihan kemarin kan? Siapakah yang bisa menjamin bahwa kau memang memilih Jokowi-JK dalam pemilihan kemarin? Seandianya pun kau memilih Prabowo-Hatta kemarin tentu tidak ada yang tahu bukan? Dan kau tetap bisa menikmati jabatanmu — tanpa konsekuensi apapun dari pilihan kau kemarin itu kan?
Tedjo, kau jelas belajar politik dari Orde Baru. Kau menghabiskan hampir sebagian besar umur dan karirmu mengabdi kepada Suharto. Dari gaya dan cara kau menjalankan kekuasaan kentara bahwa kau sama sekali tidak paham bagaimana demokrasi politik itu seharusnya dijalankan.
Tedjo, kau sudah berhasil menjadikan administrasi pemerintahan ini sedemikian tidak menarik.