Keselamatan Para Guru Terancam, KBM SMPN 2 Sungkai Selatan Terhenti

Ilustrasi sekolah SMP Feaby/Teraslampung.com KOTABUMI--Lambatnya  penanganan perselisihan yang berujung pemukulan dilakukan sejumlah warga sekitar terhadap sejumlah guru SMP Negeri 2 Sungkai Selatan, Lampung Utara membuat proses Kegia...

Keselamatan Para Guru Terancam, KBM SMPN 2 Sungkai Selatan Terhenti

Ilustrasi sekolah SMP

Feaby/Teraslampung.com


KOTABUMI--Lambatnya  penanganan perselisihan yang berujung pemukulan dilakukan sejumlah warga sekitar terhadap sejumlah guru SMP Negeri 2 Sungkai Selatan, Lampung Utara membuat proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah tersebut terhenti. Berhentinya proses KBM pada sekolah plat merah itu terhitung sejak tanggal Rabu (19/11) hingga Rabu (26/11).

Salah seorang wali murid yang enggan  disebutkan namanya membenarkan ihwal terhentinya proses KBM disekolah tersebut. Dirinya menyatakan bahwa para guru di sekolah itu takut untuk melaksanakan tugasnyalantaran perselisihan dimaksud belum menemui titik terangnya. “Guru – guru tidak mau mengajar, alasannya keselamatan jiwa mereka terancam,” ujarnya.

Kondisi ini, kata seorang sumber, telah berlangsung sejak Rabu (19/11) hingga  Rabu ini (26/11). Tak adanya proses KBM terbilang sangat merugikan para siswa lantaran tak dapat menimba ilmu disekolahnya sebagaimana biasanya. Meskipun sejumlah anak didik masih terlihat di sekolah itu, namun tak ada seorang guru pun yang terlihat disekolah itu
.
“Terhitung Rabu 19 november 2014 sampai hari ini (26/11)  praktis tidak ada proses KBM
di sekolah itu. Kami, wali murid sangat menyesalkan hal itu,” keluhnya seraya mengatakan aksi pemukulan warga terhadap sejumlah guru itu terjadi sekitar Selasa (18/11).

Oleh karenanya dia meminta agar  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Kepolisian agar dapat turun tangan menyelesaikan perselisihan antar guru dan warga sekitar agar KBM disekolah itu berjalan
sebagaimana mestinya.

“Kami minta perselisihan ini jangan dibiarkan berlarut – larut. Kasihan anak – anak kami yang enggak bisa belajar di sekolah,” pinta dia.

Salah seorang guru yang juga enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa  akibat perselisihan dimaksud rekan – rekannya merasa takut untuk mengajar disekolah. Untuk sementara ini, para dewan guru memilih berkantor di kantor Unit Pelaksana Tugas Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Sungkai Selatan. Selain merasa takut, pihaknya juga mendapat instruksi langsung dari Dinas Pendidik yang memerintahkan untuk tidak masuk kerja selama perselisihan ini belum
selesai.

“Itu ada instruksi dari Dinas langsung karena guru – guru takut semua untuk masuk. Untuk sementara, (para guru) ngantor di kantor UPTD,” singkat dia melalui ponselnya.