Pelan dan Pasti, Jokowi Ditinggalkan Para Pendukungnya

Demo mendukung KPK di Jakarta, Jumat siang (23/1). Foto: Rusdi “Ucok” Marpaung.  BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com — Pelan dan pasti, Jokowi mulai ditinggalkan para pendukungnya. Mereka adalah para pendukung Jokowi dalam...

Pelan dan Pasti, Jokowi Ditinggalkan Para Pendukungnya
Demo mendukung KPK di Jakarta, Jumat siang (23/1). Foto: Rusdi “Ucok” Marpaung. 

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com — Pelan dan pasti, Jokowi mulai ditinggalkan para pendukungnya. Mereka adalah para pendukung Jokowi dalam Pilpres 2014 lalu yang tidak berafiliasi ke partai mana pun. Pada umumnya mereka adalah orang-orang independen, profesional,dan tidak berharap mendapat ‘sesuatu’ ketika Jokowi sudah duduk  di kursi RI-1.

Luruhnya dukungan mereka kepada Jokowi sudah terlihat ketika Jokowi mengambil kebijakan yang dinilai tidak memihak kepentingan rakyat. Mereka bersikap kritis terhadap Jokowi ketika, misalnya, Jokowi menunjuk calon Kapolri Komjen Budi Gunawan. Sikap kritis memuncak  ketika Presiden Jokowi ‘tidak berbuat banyak’ ketika Mabes Polrsi melakukan kriminalisasi terhadap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto.

Kekecawaan dan kegeraman pun tertumpah di dinding Facebook dan Twitter. Di antara tebaran status di Facebook itu, ada yangmemakai bahasa lugas, tetapi tak jarang yang menggunakan bahaya sindiran dan ledekan. Ada yang datar, ada juga yang nyinyir.

Kuss Indarto, seorang kurator senirupa yang tinggal di Yogya, misalnya menulis begini:  “HOT NEWS: Joskuwi memecat Kabur-eskrim, Mbudi Wasweswos karena dianggap telah melampaui kewenangannya, tidak prosedural, dan tidak berkoordinasi dgn Plt Kampolrih. Joskuwi juga sekaligus membatalkan sama sekali pengangkatan & pelantikan Mboedie Glumayan sbg Kampolrih karena nyengiti & nyebahi (Wis hot rung?”

Tri Agus Susantowiswowijarjo, aktivis yang pernah dipenjara oleh rezim Orde Baru dan saat ini menjadi dosen di Yogya, menulis: “Jokowi sedang diuji apakah pro komplotan koruptor atau rakyat! Segera turun tangan, sudah cukup berpangku tangan! ‪#‎SaveKPK‬ ‪#‎SayaKPK‬”. 

Iip Syariful Hanan, penulis skenario dan guru spiritual lebih rajin menulis status lucu. Namun, tohokan tetap mengarah kepada Jokowi yang dinilainya tidak tegas. Iip misalnya menulis begini di dinding FB-nya: “Nganu, itu… walah, aku ni mau ngomong ya. Coba tulung bikinken pidato biar ibu dan mas bro ndak kesinggung gitu loh.”

Ketika membagi tautan berita tentang harapan masyarakat kepada Jokowi atas penangkapan Bambang Widjojanto, “Iip menulis: Nganu, aku sebenernya mau bertindak ini tapi ya wedhi karo mbokku sama mas bro-ku itu loh. (Bayangkan yang bicara Gogon)”

Blontank Poer, blogger dan pemilik usaha teh celup paling enak di dunia cap “Blon Tea”, yang selama ini dikenal sangat dekat dengan Jokowi pun gencar membagi tautan berita dengan pengantar bernada kritik kepada Jokowi. 

Blontank misalnya menulis begini:Blontank Poer, blogger dan pemilik usaha teh celup paling enak di dunia cap “Blon Tea” yang selama ini dikenal sangat dekat dengan Jokowi pun gencar membagi tautan berita dengan pengantar bernada kritik kepada Jokowi. Blontank misalnya menulis begini:Mantan Wakapolri: Polri Sudah Lumpuh, Kita Butuh Keputusan Cepat Presiden.”

Sejauh ini, Jokowi masih bergeming dengan sikap lamanya: berbicara formalitas-prosedural. Bahkan,ketika harus bersikap tentang penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, Jokowi masih ‘slow’ dan seolah-olah ‘adem’ saja. Itu pula yang kemudian menjadi bahan olok-olok di media sosial. Para pengguna media sosial menilai Jokowi tidak tegas. Bahkan, ada yang dengan sarkastis menyebut kelembekan sikap Jokowi sebagai kalah dengan ketegasan seorang Ketua Rukun Tetangga (RT). 

Oyos Saroso H.N.