Kemiskinan Membuat Heri Kurniawan Harus Hidup dalam Kegelapan
Feaby/Teraslampung.com Kotabumi--Sudah hampir empat tahun belakangan ini, Heri Kurniawan (21), warga Desa Sukajadi, Kecamatan Abung Selatan, Lampung Utara, tidak bisa menjalankan aktivitas sehari-hari layaknya orang normal. Hal itu karena sejak emp...
Feaby/Teraslampung.com
Kotabumi--Sudah hampir empat tahun belakangan ini, Heri Kurniawan (21), warga Desa Sukajadi, Kecamatan Abung Selatan, Lampung Utara, tidak bisa menjalankan aktivitas sehari-hari layaknya orang normal. Hal itu karena sejak empat tahun lalu kedua mata Heri tidak lagi berfungsi.
Kedua orang tua Heri sehari-hari hanya sebagai buruh. Itulah sebabnya, ketika penyakit mata menyerang Heri, empat tahun lalu, pengobatan tidak bisa dilakukan secara maksimal.Akibatnya, mata Heri yang semula kabur untuk melihat, akhirnya benar-benar tak bisa melihat. Untuk melihat, ia terpaksa mengandalkan mata sebelah kirinya yang hanya mampu melihat pandangan sejauh 1 meter.
Rumah berukuran sekitar 7 x 10 meter yang sebagian berdinding papan, geribik (anyaman bambu) serta bata tersebut seakan menjadi saksi bisu perjuangan Aceng Sukaryo (46) dan Mimik Suharyati (47), kedua orang tua Heri yang telah putus asa mengobati anaknya lantaran terbentur biaya.
“Sudah 5 tahun ini mata saya rabun. Dibilang katarak bukan, tapi saya susah untuk melihat,” kata Heri, di kediamannya, Senin (7/9).
Sulung dari dua bersaudara ini mengatakan, kedua orang tuanya telah berulang kali membawa dirinya berobat baik itu ke pengobatan alternatif maupun pengobatan medis. Namun, karena keterbatasan biaya, keluarganya terpaksa tak dapat lagi membawanya berobat.
Heri mengaku terkadang dirinya merasa sangat sedih lantaran di usianya yang masih sangat muda ini, dirinya sama sekali tak bisa membantu kedua orang tuanya akibat penyakitnya itu.
“Yah, mau gimana lagi. Mau berobat, orang tua saya enggak ada duit. Semoga ada dermawan yang mau membantu pengobatan saya, mas,” tuturnya lirih.
Sementara, Mimik Suharyati, ibu Heri menuturkan, pada kedua mata anaknya itu terdapat selaput putih. Selaput putih yang menutupi bola matanya inilah yang mengganggu penglihatan anaknya sejak empat tahun silam.
Ia mengaku pernah membawa putra sulungnya itu berobat ke dokter spesialis mata di Bandar Lampung. Sayangnya, dokter tak mampu menyimpulkan penyakit apa yang menimpa mata anaknya tersebut. Pengobatan terhadap anaknya terpaksa dihentikan lantaran tak ada biaya.
“Sebagai orang tua, tentu saya sangat sedih melihat keadaan anak saya. Apalagi kami sudah tak dapat membawanya berobat karena enggak ada biaya. Saya harap, ada dermawan yang akan membantu biaya pengobatan anak saya hingga sembuh,” harapnya.





