Juri Dinilai Diskriminatif, Orangtua Peserta Lomba Fiesta Mandala II di Kotabumi Protes
Feaby/Teraslampung.com Kepala Dinas Pendidikan Lampung Utara, Adrie menyerahkan trophy penghargaan kepada salah satu pemenang dalam Fiesta Mandiri II, di SMAN I Kotabumi. Kotabumi–Lomba parodi dalam rangkaian Fiesta Mandala II di SMAN...
Feaby/Teraslampung.com
| Kepala Dinas Pendidikan Lampung Utara, Adrie menyerahkan trophy penghargaan kepada salah satu pemenang dalam Fiesta Mandiri II, di SMAN I Kotabumi. |
Kotabumi–Lomba parodi dalam rangkaian Fiesta Mandala II di SMAN I Kotabumi, Lampung Utara yang digelar pada Jumat dan Sabtu malam lalu (31/10) menuaii protes dari orang tua peserta. Seorang walimurid memprotes kebijakan dewan juri dan menuding adanya kecurangan.
Yordan Bangsaratoe, orang tua siswa siswa SMAN2 Kotabumi yang ikut dalam lomba tersebut, mengatakan indikasi kecurangan terlihat dari adanya pengurangan waktu pentas.
“Peserta nomor urut 009 asal SMA 2 Kotabumi hanya diberikan waktu selama 15 menit untuk mentas pada Sabtu (31/10) malam. Sementara, kelompok peserta lainnya seperti nomor urut 001 – 008 yang pentas pada Jum’at (30/10) malam diberikan waktu selama 20 menit,” kata Yordan, Minggu (1/11/2015).
“Kelompok anak saya saat pentashanya diberi waktu 15 menit. Sementara yang nomor urut 001 – 008, diberi waktu hingga 20 menit. Pengurangan waktu ini sangat berpengaruh dengan ritme dan aksi pentas karena ada bagian – bagian yang terpaksa hilang,” tegas Yordan.
Yordan menandaskan bahwa dirinya sama sekali tak mempersoalkan apakah kelompok anaknya akan memenangi perlombaan itu atau tidak. Karena sejatinya, yang dipersoalkannya adalah perlakuan diskriminatif dari tim juri atau pihak panitia kepada kelompok anaknya yang tak memberikan waktu yang sama dengan peserta lain.
Perlakuan diskriminatif seperti ini, masih menurut Yordan, sangat tak mendidik dan secara tak langsung mengajarkan para generasi muda untuk berlaku tidak jujur dengan sesamanya. Para generasi muda hendaknya dididik untuk berlaku jujur dengan diberikan teladan yang baik dan bukan sebaliknya.
“Yang penting adalah bagaimana kita berlaku jujur dan mendidik. Karena anak – anak kita adalah masa depan bangsa. Jadi, jangan diajari dan dicekoki dengan contoh – contoh yang tak seharusnya. Kasihan generasi muda kita,” sindir politisi kawakan ini.
Zaidar Yulianti, salah seorang juri perlombaan Tangkai Parodi menegaskan bahwa lamanya aksi panggung sama sekali tak berpengaruh dalam penilaian. Karena hal utama yang menjadi penilaian mereka ada keterkaitan alur cerita yang disampaikan peserta dengan tema yang diusung dalam lomba Tangka Parodi itu. Selain itu, penilaian itu juga didasari oleh peran atau akting yang diperankan yang harus dijiwai dengan baik oleh para peserta. Sedangkan tema dalam lomba ini sendiri ialah “Bersihkah Indonesia”.
“Yang terpenting bagi kami (juri,red), ceritanya nyampe dengan kami sesuai dengan tema. Jadi walau dipotong waktunya, tak mempengaruhi penilaian. Intinya, enggak ada pengurangan nilai (walau waktunya dipotong),” tandasnya melalui sambung telepon.
Zaidar beralasan, tema cerita yang dibawakan oleh peserta dengan nomor urut 009 itu sama sekali tak berkaitan dengan tema dalam lomba Tangkai Parodi. Sementara mengenai pengurangan waktu dari 20 menit menjadi 15 menit, ia berkilah bahwa itu urusan panitia dan bukan wewenang pihaknya.
“Temanya itu Bersihkah Indonesia. Karena kalau enggak salah cerita mereka tentang bawang merah dan bawang putih, ya enggak nyambunglah (cerita mereka itu),” tegas dia.
Perlombaan Tangkai Parodi dalam Fiesta Mandiri II ini dimenangkan SMAN Abung Barat. Juara kedua diraih SMAN Bukit Kemuning, sedangkan juara ketiga direbut SMAN 4 Kotabumi.
Perlombaan Fiesta Mandiri II yang dimulai sejak tanggal 30 Oktober ini ditutup oleh Kepala Dinas Pendidikan, Adrie pada Minggu (1/11).



