Hari Pers Itu…
Dwidjo U. Maksum Seharian banyak menerima ucapan selamat HPN dari teman-teman. Tentu senang mendapat ucapan itu. Setidaknya menjadi bukti saling perhatian yang tulus sebagai sesama warga sebuah negara. Tapi terus terang, saya sendiri tak terlalu ak...
Dwidjo U. Maksum
Seharian banyak menerima ucapan selamat HPN dari teman-teman. Tentu senang mendapat ucapan itu. Setidaknya menjadi bukti saling perhatian yang tulus sebagai sesama warga sebuah negara. Tapi terus terang, saya sendiri tak terlalu akrab dengan istilah HPN alias Hari Pers Nasional yang diperingati tiap tanggal 9 Februari itu.
Saya tak memiliki ikatan historis dengan tanggal itu karena saya bukan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tapi, buat para sahabat saya yang menjadi anggota PWI, tentu tanggal 9 Februari adalah momen penting karena merupakan tanggal kelahiran PWI. Dan kepada teman-teman anggota PWI, saya wajib mengucapkan selamat. Semoga terus menjadi salah satu: ya salah satu organisasi profesi wartawan yang baik dan bermartabat.
Sejak menekuni dunia jurnalistik di awal tahun 1990-an, saya tidak pernah tahu kapan persisnya Hari Pers Nasional. Jadi ya apa boleh buat, saya tidak pernah memperingatinya. Buat saya, menjadi wartawan yang tiap hari mematuhi semua rambu-rambu etik, moral, dan kecakapan teknis: sudah merupakan seremoni hari pers nasional yang luar biasa.
Mengambil sebuah tanggal sebagai momen peringatan nasional, harus berdasarkan kajian historis mendalam. Apalagi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tak terlepas dari peran insan pers. Dalam kurun waktu yang sangat panjang itu, pasti ada momen paling kuat yang bisa dipakai dasar menentukan hari pers nasional.
Sambil menunggu Hari Pers Nasional yang layak diperingati, sekali lagi saya mengucapkan selamat ulang tahun buat PWI. Semoga terus jaya dan sukses. Salam perjuangan selalu.



