Raya yang Berjoget, Rakyat yang Terpeleset

Raya yang Berjoget, Rakyat yang Terpeleset

Oleh: Sudjarwo

Di tanah Bharata yang luas dan subur berdirilah Negeri Hastinapura sebagai lambang kejayaan, kekuasaan, dan kewibawaan hukum. Negeri itu sejak lama dikenal sebagai pusat para ksatria besar, tempat lahirnya pemimpin-pemimpin yang menjunjung tinggi pengabdian pada negeri di atas segala kepentingan pribadi.

Sungai-sungai besar mengalir melewati sawah hijau yang membentang sampai kaki bukit, pasar-pasar ramai oleh perdagangan, dan rakyat hidup dengan keyakinan bahwa singgasana kerajaan dijaga oleh kebijaksanaan para pemimpin yang memahami arti tanggung jawab.

Pada masa lalu, para raja Hastinapura memimpin dengan kehati-hatian. Setiap keputusan dibicarakan bersama para penasihat, setiap hukum ditimbang dengan akal sehat, dan setiap kebijakan selalu mempertimbangkan nasib rakyat kecil yang hidup jauh dari tembok istana. Sekalipun terkadang semua itu belum bisa memenuhi rasa keadilan sepenuhnya; namun paling tidak ada rasa empati dari penguasa negeri.

Namun, kejayaan sebuah negeri sering tidak runtuh karena serangan musuh dari luar, melainkan karena perubahan watak para pemimpinnya sendiri. Setelah pergantian kekuasaan, tahta Hastinapura jatuh ke tangan seorang raja yang penuh semangat, tetapi miskin pengendalian diri. Sang raja memiliki kemampuan besar untuk menarik perhatian rakyat. Ia pandai memainkan emosi kerumunan, gemar tampil di depan umum, dan menyukai kemeriahan yang membuat dirinya dipuja. Tidak jarang dia berpidato dengan menggebrak-gebrak podium, supaya tampak seperti singa lapar. Setiap kedatangannya ke alun-alun kerajaan selalu tampil dengan mengendarai Harimau beroda empat; bahkan akhir-akhir ini Paduka Raja meminta kendaraan dari kaca, agar tampak lebih berwwibawa. Sang raja juga paling suka disambut dengan genderang khas tentara, disertai sorak-sorai pengikut yang mengelu-elukan namanya dengan penuh kekaguman.

Istana yang dahulu dikenal tenang dan khidmat perlahan berubah menjadi panggung hiburan. Aula kerajaan lebih sering dipenuhi pesta dan pertunjukan daripada musyawarah para cerdik-cendikia. Sang raja menikmati setiap tepuk tangan yang mengiringi langkahnya. Ia merasa semakin dicintai ketika rakyat bersorak melihat dirinya berjoged di tengah keramaian, walaupun terkesan lagunya kemana-tariannya kemana. Para penjilat istana memanfaatkan keadaan itu untuk memperkuat kedudukan mereka. Mereka terus memuji sang raja sebagai pemimpin paling berani dan paling dekat dengan rakyat yang pernah dimiliki Hastinapura.

Pada awalnya banyak rakyat merasa bangga memiliki pemimpin yang tampak sederhana dan tidak menjaga jarak. Sang raja berbicara dengan gaya bebas tanpa tata cara resmi seperti para pendahulunya. Ia menyampaikan pidato panjang tanpa naskah, penuh semangat dan kemarahan, seolah semua persoalan negeri dapat diselesaikan hanya dengan keberanian dan keyakinan. Akan tetapi, di balik kata-kata yang berapi-api itu, tidak ada arah yang benar-benar jelas. Para pejabat kerajaan sering kebingungan memahami maksud perintah yang berubah-ubah.

Hari ini sang raja memerintahkan pembangunan lumbung pangan besar-besaran, esok harinya ia mengalihkan seluruh perhatian kerajaan kepada proyek enargi nabati. Tidak jarang kedua perintah saling bertumburan pada wilayah implementasi,

Tidak ada dasar hukum yang kuat dalam banyak keputusan yang diambil kerajaan. Semua bergantung pada suasana hati sang penguasa. Ketika sang raja sedang gembira, ia dapat membagikan hadiah besar kepada para pengikutnya. Namun ketika emosinya tersulut, hukuman berat dapat dijatuhkan hanya karena perbedaan pendapat kecil; bahkan para aktivis penggiat demokrasi ditangkapi, tanpa harus diadili. Lebih dari seribu orang ditahan tanpa pengadilan. Balairung kerajaan tidak lagi menjadi tempat mencari kebijaksanaan, melainkan ruang tempat semua orang berlomba menyenangkan hati penguasa.

Para penasihat tua yang dahulu dihormati perlahan disingkirkan. Nasihat dianggap sebagai bentuk perlawanan. Kritik dipandang sebagai ancaman terhadap kewibawaan kerajaan. Dalam suasana seperti itu, hanya sedikit orang yang masih memiliki keberanian untuk berbicara jujur. Sebagian besar memilih diam demi keselamatan diri sendiri. Ketakutan menyebar perlahan di dalam istana. Para pejabat lebih sibuk menjaga posisi mereka dibanding memikirkan nasib rakyat.

Para tetua negeri melihat keadaan itu dengan kegelisahan mendalam. Mereka memahami bahwa pemimpin yang terlalu mencintai pujian lambat laun akan kehilangan kemampuan untuk membedakan kenyataan dan sanjungan. Ketika seorang raja hanya mau mendengar suara yang menyenangkan telinganya, maka kebenaran akan tersingkir dari istana. Dalam keadaan seperti itu, kerajaan sesungguhnya sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri.

Di tengah penderitaan rakyat, sang raja tetap tampil berjoged di depan para pengikutnya dengan wajah penuh keyakinan. Bahkan pesta ualng taun anak buah kesayangan diadakan di manca negara. Ia percaya bahwa kemeriahan dapat menjaga citra kekuasaan. Ia merasa bahwa selama rakyat masih bersorak, maka kerajaan tetap berada dalam kendalinya. Padahal di luar tembok istana, kepercayaan rakyat perlahan runtuh. Orang-orang tidak lagi melihat singgasana sebagai pelindung, melainkan sebagai simbol kesombongan yang kehilangan rasa malu terhadap penderitaan negeri.

Ketidakpuasan mulai tumbuh diam-diam di pasar, di desa, bahkan di antara para prajurit kerajaan sendiri. Hastinapura yang dahulu kokoh perlahan menjadi rapuh dari dalam. Para resi memahami bahwa kehancuran besar sering dimulai dari hal-hal seperti itu: pemimpin yang lebih mencintai sorak-sorai daripada kebijaksanaan, lebih mengikuti emosi daripada hukum, dan lebih sibuk menjaga kemegahan daripada mendengar jeritan rakyatnya sendiri yang setiap hari harus bertahan dari terpaan hidup. Pasar sudah sepi, harga terus melambung tinggi, ikat pinggang sudah tak berlubang lagi.***

*Guru Besar Universitas Malahayati